by

Menelusuri Jejak Islam di Asia Tenggara

-Islam-376 views

Sejarah mula dan pertumbuhan Islam di Asia Tenggara tidak dapat dicungkil dari hubungan area ini dengan dunia luar, laksana Arab, Persia, India, dan Cina.

Asia Tenggara ialah melting pot, lokasi pertemuan sekian banyak kebudayaan.

Jalur Sutra yang melewati area ini menciptakan arus perdagangan berkembang pesat.

Catatan menunjukkan, masyarakat Asia Tenggara sudah menjalin hubungan dengan Saudi Arabia, jauh sebelum kedatangan Islam.

Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam, A History of the Propagation of the Muslim Faith memperkirakan Islam sudah dibawa oleh saudagar Arab pada mula abad kesatu Hijriyah.

Ada tidak sedikit referensi yang menulis hubungan dagang antara Timur dan dunia Arab telah dilangsungkan intensif semenjak abad-abad kesatu Masehi.

Proses penyebaran dilaksanakan lewat jalur perdagangan, perkawinan, politik, dan sufisme. Kendati demikian, pendapat tersebut tidak final.

Terdapat perdebatan tentang kapan dan siapa yang membawa Islam ke area ini.

Perdebatan itu melibatkan semua sarjana dari dalam dan luar negeri, laksana Snouck Hurgronje, Syed Naquib al-Attas, A Hasjmy, Azyumardi Azra, Hamka, Uka Tjandrasasmita, dan sebagainya.

Salah satu teori menuliskan Islam diangkut oleh duta Syarif Makkah dari Arab pada abad ke-7 M, sedangkan teori beda menyebut Islam diangkut oleh semua pedagang dari India, Gujarat, Persia, atau Cina.

Dapat dicerna bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara mempunyai sifat gradual dan dapat jadi tidak dilaksanakan oleh satu aktor tunggal.

Selat Malaka adalahpintu masuk kapal-kapal dari sekian banyak negara. Dari Selat Malaka dan pesisir Sumatra, Islam mulai berkembang di Asia Tenggara. Jalur perdagangan membawa para pedagang Muslim ke Semenanjung Melayu, Johor, Perlak, Cirebon, Gresik, dan Kalimantan Barat.

Pada masa-masa berikutnya, saudagar masuk ke Indonesia Timur, laksana Maluku, Ternate, dan Tidore.

Baca juga:
Alasan Ustaz Abdul Somad tak Jawab Celaan di Medsos

Seperti disalin Syed M Naquib al-Attas dalam Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu mengatakan, proses masuknya Islam ke Melayu-Nusantara dilangsungkan damai (penetration pacifique).

Dijelaskan Taufik Abdullah (ed.) dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, pelayaran dan perniagaan internasional yang terbentang dari Arab hingga Cina melewati Selat Malaka pun melewati Bandar Seri Bengawan, Brunei Darussalam.

Berdasarkan keterangan dari Selasilah atau Tersilah Brunei, raja kesatu Brunei yang mendekap Islam ialah Alang Betatar dengan gelar Sultan Muhammad pada mula abad ke-15.

Islam sudah ditemukan di area ini semenjak abad ke-11. Etnis Muslim Cham yang lantas tersebar di Vietnam, Kamboja, dan Thailand sudah mendapat pengaruh Islam sebelum abad ke-15 M.

Jalur perniagaan yang menghubungkan Samudra Pasai, Malaka, dan Brunei pun tidak terpisahkan dari Filipina Selatan.

Berdasarkan keterangan dari Hikayat Sulu, mubaligh yang kesatu kali datang ke distrik ini ialah Syekh Karim Makhdum. Ia mendarat di Kepulauan Sulu dan Jolo pada 1380 M.

Setelah itu, tidak sedikit pedagang dan ulama yang mengekor jejak Syeikh Makhdum. Mereka berdiam di sana dan mengajarkan Islam untuk penduduk setempat. Filipina pun pernah menjadi unsur dari Kesultanan Brunei pada abad ke-15.

Islam di lokasi ini semakin powerful berkat kedatangan saudagar Muslim dari Jolo, Mindanao, Malaysia, dan Indonesia.

Gelombang penyebaran Islam semakin mantap pada abad ke-12 M. Berdasarkan keterangan dari Azra, Islamisasi massal terjadi pada abad tersebut saat para guru sufi datang mengenalkan Islam untuk masyarakat lokal. Khususnya, semenjak abad ke-13, Abbasiyah goncang dampak serangan Mongol.

Banyak guru tasawuf menumpang kapal dagang Muslim dari Timur Tengah. Praktik tasawuf ini diperkuat dengan kelompok-kelompok tarekat, laksana Syattariyah, Qadariyah, Naksyabandiyah, Khalwatiah, dan Kubrawiah.

Baca juga:
Lewat MRO, Hafalkan Qur’an 30 Juz Hanya 118 Hari

Kenyataan ini secara umum memengaruhi corak Islam setempat. Islam yang berkembang ialah Islam yang mempunyai sifat akomodatif (kalau tidak disebutkan sinkretik).

Secara umum, tasawuf lebih gampang diterima sebab doktrin ini dalam sejumlah segi dapat menjembatani latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi doktrin Hindu-Buddha dan keyakinan lokal.

Meski Islam etape ini paling diwarnai aspek tasawuf, tersebut tidak berarti aspek syariah dilalaikan sama sekali.

Hal tersebut terlihat dari sikap semua ulama, laksana Nuruddin ar-Raniri dan ketegasan Wali Songo dengan Syekh Siti Jenar yang menganut wahdatul wujud. Kecenderungan ke arah ortodoksi berangsur-angsur semakin powerful mulai abad ke-17.

Proses Islamisasi yang semakin masif pun tidak terlepas dari peran kesultanan.

Proses Islamisasi itu berawal ketika raja setempat masuk Islam kemudian dibuntuti dominasi peranan kerajaan di tengah komunitas Muslim.

Kerajaan tidak hanya bermanfaat sebagai institusi politik, tetapi pun pembentukan institusi Muslim yang lain, seperti edukasi dan peradilan.

Kesultanan pun menjadi patron untuk perkembangan intelektualitas dan kebudayaan Islam. Berdasarkan bukti arkeologis, Samudra Pasai ialah kerajaan Islam kesatu di Melayu-Nusantara.

Kemudian, hadir Kesultanan Malaka, Aceh, Palembang, Riau, Tumasik, Perlak, Johor, Demak, Cirebon, Banten, Goa Tallo, Ternate Tidore, Banjar, dan Bima. Terdapat pula Kesultanan Sulu, Lanao, dan Maguindanao di Filipina, serta Kesultanan Brunei di Brunei Darussalam.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed