by

Mahakam Pakai Dana Internal Pertamina, Freeport dengan Dana Hutang Bank

JAKARTA – Proses divestasi Pemerintah RI terhadap PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Blok Migas Mahakam ternyata berbeda perlakuan. Jika Blok Migas Mahakam diakuisisi dengan  dana internal Pertamina sebagai holding BUMN Migas, maka sebaliknya Pemerintah Indonesia melalui holding BUMN pertambangan, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), melakukan proses alih kelola terhadap PTFI lewat dana pinjaman bank.

Hingga kini Senin (12/11/2018), data yang dikumpulkan wartawan, menyebutkan, persoalannya sekarang muncul karena dugaan legalitas akuisisi sampai tahap Head of Agrement (HoA) atau kesepakatan poin-poin pokok dalam divestasi saham 51 persen belum dibayarkan hingga sekarang. Bagian saham 51 persen itu senilai Rp 57 Triliun atau 3,85 miliar dolar AS) dari total saham PTFI.

Komposisi saham PTFI saat ini dimiliki FCX (Freeport McMoran Inc) sebanyak 90,64 persen, dan sisanya 9,36 persen dimiliki pemerintah Indonesia. Bahkan saham Pemerintah Indonesia sebelumnya adalah 10 persen, kemudian berkurang menjadi 9,36 persen karena PTFI melakukan pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana dalam pertambangan Freeport. Menurut beberapa wakil rakyat di DPR RI dan kalangan akademisi, berkurangnya saham 10 persen itu juga kurang disadari dalam penandatanganan HoA saat itu.

Sementara itu, Menteri BUMN Rini, Soemarno seusai konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, beberapa waktu lalu  (12/7/2018), menyebutkan, Inalum telah mendapatkan pinjaman terkait pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia. Ia menegaskan, jumlah komitmen dari pinjaman tersebut mencapai 5,2 miliar dolar AS (senilai Rp 79,684 Triliun kurs 15.324). Bahkan diinformasikan Menteri Rini Sumarno dan , terdapat 11 bank yang ikut memberikan pinjaman.

Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Bidang Perekonomian, Hendrawan Supratikno, saat dalam Rapat Dengar Pendapat DPR RI, mengakui, bahwa pihak PDIP mengakui sebenarnya proses divestasi saham PTFI memang belum tuntas. Tapi menurutnya, saat ini semua pihak yang terlibat proses akuisisi PT Freeport Indonesia masih melakukan pembahasan detail terkait upaya pengambilalihan saham tersebut. Komisi VII DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan Dirut PT Freeport Indonesia, Rabu (17/10/2018).

Baca juga:
Bursa Kerja Tangsel Buka 7.392 Lowongan

“Saya yakin akuisisi PT Freeport akan berjalan lancar sebelum 2018 berakhir,” cetusnya dalam interview seusai RDP saat itu.

Padahal penandatanganan Head of Agreement (HoA) yang digelar di Aula Mezzanine Kementerian Keuangan, Jakarta, sudah dilaksanakan pada Kamis (12/7/2018). Kemudian Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengklaim saham Freeport dapat dikuasai secara berulang-ulang.

Ada Selisih

Menurut Menteri Rini Sumarno dan , informasi soal kemampuan dana pinjaman bank untuk akuisisi PTFI berasal dari keterangan Direktur Utama (Dirut) PT Inalum,  Budi Gunadi Sadikin, Nilai transaksi pembelian saham Freeport Indonesia ini sebesar 3,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp 53,9 triliun (kurs Rp 14.000 per dolar AS).

Namun catatan wartawan, jika menggunakan kurs dolar per hari ini (4/11/2018) maka saham 51 persen yang diakuisisi itu sebesar Rp 58,997 Triliun. Dengan demikian selisih antara dana pinjaman bank dengan besaran dana yang bakal diivestasikan untuk akuisisi PTFI adalah Rp 20,687 Triliun yang tersisa. Sedangkan informasi dana bank itu diperoleh Rini Sumarno dari Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin Kamis (12/7).

Menteri Rini Sumarno dan Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin, menargetkan proses transaksi pembayaran divestasi akan selesai dua bulan mendatang. Dalam perhitungan saat penandatanganan, tambah Rini Sumarno, nilai transaksi pembelian saham Freeport Indonesia ini sebesar 3,85 miliar dolar AS atau sekira Rp 53,9 triliun. Sedangkan kurs dipatok sebesar Rp 14.000 per dolar AS.

Hal senada sebelumnya sudah diungkapkan Rini Sumarno saat ditemui wartawan di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/7/2018). Bahwa laporannya yang diterima bahwa komitmen pinjaman banknya sudah sampai 5,2 miliar dolar AS kita sudah dapat. Tetapi pihak kementerian yang dipimpin Rini Sumarno tidak memakai semua, karena nilainya divestasi PTFI tidak sebesar pinjaman yang diperoleh PT Inalum.

Baca juga:
Lewat MRO, Hafalkan Qur’an 30 Juz Hanya 118 Hari

Secara terpisah, Budi Gunadi Sadikin, menambahkan, untuk bisa menyelesaikan transaksi tersebut, Inalum perlu menyiapkan beberapa sumber pembiayaan. Budi mengatakan, ada 11 bank yang berminat untuk memberikan pinjaman untuk mendanai investasi sendiri. “Ada sebelas bank yang siap membantu mendanai transaksi,” ujar Budi di kantor Kementerian Keuangan, saat dihubungi wartawan pada Kamis (12/7/2018) lalu.

Nantinya tidak hanya pinjaman dari bank, lanjut Budi Gunadi Sadikin, adanya kemungkinan pembiayaan diambil dari ekuitas holding BUMN Pertambangan. Ia menyatakan, saat ini posisi keuangan yang dipegang holding BUMN Pertambangan sebesar 1,5 miliar dolar AS.

Soal Blok Mahakam

Sementara dalam perkembangan pada persoalan akuisisi PT Pertamina (Persero) terhadap Blok Mahakam sudah jalan untuk mengoperasikan produksi. Pertamina menyiapkan dana sebesar 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24,3 triliun untuk mengelola Blok Mahakam. Perusahaan pelat merah ini akan menjadi operator Blok Mahakam mulai 1 Januari 2018.

Sejumlah persiapan alih kelola terus dilakukan oleh Pertamina. Salah satunya juga mempersiapkan work program and budget (WP&B) 2018 yang akan didiskusikan dengan SKK Migas pada akhir November nanti. Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Bambang Manumaryoso mengatakan, dalam WP&B tersebut, dianggarkan dana investasi mencapai 700 juta dollar AS dan dana operasi sebesar 1,1 miliar dollar AS.

Menurut dia, seluruh dana tersebut akan didapat dari kas internal Pertamina. “Insya Allah Pertamina cukup sehat. Kami lakukan pendanaan, kalau ada opportunity lebih lagi kami fleksibel membiayai proyek-proyek lain,” kata Bambang kepada media massa waktu itu.(Sudjoko Sahid, dan dari berbagai sumber)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed