by

Pemilih Pemula Masih Ragu

JAKARTA- Bukan hanya pemilih pemula di Jakarta yang mengaku gamang dan ragu, ketika ditanya bagaimana menghadapi Pileg dan Pilpres serentak pertama di negeri ini. Terutama para mahasiswa yang tinggal di perantauan, mereka rata-rata mengaku belum bisa mengetahui bagaimana mengurus Formulir Model A5. Yakni surat keterangan yang digunakan para mahasiswa untuk pindah memilih dalam Pilres 2019 mendatang.

Mereka mengungkapkan, rumahnya jauh tentu memperkirakan dirinya tidak pulang kampung saat Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) pada 17 April 2019 nanti. Untuk itu sebagian dari mereka juga mencari tahu agar dapat menggunakan hak pilih di tempat perantauan mereka.

Dari penelusuran di kota-kota besar yang memiliki perguruan negeri negeri, sejumlah mahasiswi yang berhasil ditemui wartawan dari DUALINK.ID menyebutkan, dia bersama sejumah rekannya tidak pulang ke kampung saat Pileg dan Pilpres nanti. Karena mereka melihat agenda kampus justru padat sekali. Jika pulang kampung mereka beralasan butuh waktu setidaknya seminggu. Jika libur sehari atau dua hari, lalu balik kampung tentu terlalu riskan. Karena konsekuensinya mereka bakal meninggalkan agenda di fakultas mereka masing-masing.

“Pada semester ini, saya banyak tugas dan praktek, jika bertepatan Hari Rabu 17 April itu pulang ke desa, pada Kamis sudah harus di kampus lagi. Padahal mulai Selasa, hingga Jum’at pada semester V ini jadwal kuliah dan praktek di Fakultas Biologi sangat full,” ujar seorang mahasiswi universitas negeri tertua di Jakarta asal Jember Jatim ini saat dihubungi Rabu (14/11) sore.

Putri sulung seorang wartawan ini, menyebutkan rekan-rekannya banyak yang senasib. Mereka yang tidak pulang ke desa saat Pileg dan Pilpres nanti, masih bertanya cara mengurus surat-surat untuk bisa ikut mencoblos. Karena mereka ber-KTP asal daerah masing-masing. Selain mereka mengaku masih buta soal proseduralnya, para mahasiswa-mahasiswi juga belum mengetahui alamat institusi yang mengurusinya.

Baca juga:
Delapan Juta Lebih Umat Islam Hadiri Reuni - 212 di Lapangan Monas, Ahad (2/12).

Hal senada dengan kelompok mahasiswa di Jakarta juga dialami mahasiswa di Universitas Negeri Brawijaya (UB) Malang Jatim dan Universitas Islam Negeri Surabaya (Uinsa). Seperti yang disebutkan mahasiswa asal Madura ini, mereka tidak pulang ke daerah Madura. Apalagi yang disebutkan, Mohammad Lazim ini, ia yang berasal dari Kepulauan Sepudi, Kabupaten Sumenep itu sulit akan mengikuti Pileg dan Pilpres di desa. Karena untuk pulang kampung halaman mereka, setidaknya mereka butuh waktu dua hari.

“Itupun kalau mendapatkan tumpangan kapal yang langsung membawa mereka ke kepulauan setelah sampai Sumenep. Selain kesulitan itu, saya juga belum mengerti cara-cara mengurus surat keterangan agar bisa mencoblos di luar daerah. Tentu saya bersama teman yang asal daerah, bakal ikut Pemilu di Malang,” kata Mohammad Lazim saat dihubungi via telepon.

Lain lagi yang diungkapkan Adiba dari Fakultas Tafsir Hadist Uinsa Surabaya, ia menyebutkan, tak pernah mengurus apapun urusan di luar kampusnya. Ia besama rekan-rekan mereka, tidak pernah keluar kampus maupun keluar jauh dari rumah inde kost.

“Adalah untuk pertama kali dalam sejarah demokrasi di negeri ini, saya akan ikut menggunakan hak suara ke dalam Pileg dan Pilpres. Secara teknis banyak pertanyaaan yang belum terjawab terutama bagi pemilih pemula seperti saya dan teman-teman,” ujar mahasiswi berusia 19 tahun ini.(oko dan beberapa sumber)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed