by

Target Job Fair Tangsel Gagal

TANGERANG SELATAN – Angka kebutuhan tenaga kerja (naker) yang ditawarkan dalam Job Fair 2018 di Tangerang Selatan (Tangsel) ternyata gagal terpenuhi. Karena dari 7.923 lowongan (peluang) yang ada ternyata hanya terisi 3.344 (atau sekitar 0,42 %) pelamar kerja. Bahkan pihak Disnakertrans Kota Tangsel memperkirakan angka kekurangan tenaga kerja untuk 53 perusahaan yang membutuhkan bakal tambah besar setelah tahap seleksi.

Pagi ini, Rabu (28/11) diagendakan evaluasi dari pihak Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) lewat Seksi Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja (P2K2) guna mencarikan jalan keluarnya. Karena jumlah pelamar kerja yang tertampung jauh dari target. Tahun sebelum juga mengalami hal serupa, peminat bursa kerja sangat kurang. Untuk tahun ini, selama penyelenggaraan Job Fair (bursa kerja) angka kekurangannya mencapai 0,58 % dari target yang dicanangkan penyelenggara acara. Atau kurang 4.579 tenaga kerja.

Kepala seksi P2K2, Neni Sumiati, mengatakan, program Job Fair yang diadakan setahun dua kali yaitu Juli dan November. Untuk itu harus dibarengi dengan agenda lain, berupa Bimbingan Teknis (Bintek) Bursa Kerja Khusus bagi alumnus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Supaya tenaga kerja lulusan sekolah SMA/SMK terserap lebih besar lagi. Dari catatan P2K2 sebenarnya rata-rata angka kelulusan SMA/SMK mencapai 2.800 siswa per tahun.

Menurut Neni saat ditemui wartawan DUALINK.ID mengatakan, kalau tahun 2017 jumlah pengunjung tercatat lebih besar. Namun perusahaan yang membuka peluang kerja kebanyakan merekrut karyawan untuk penempatan di luar negeri. Sehingga kebanyakan pelamar kerja tidak berminat. Sementara itu dari sisi pengusaha, kata Neni, jumlah pelamar kerja tersebut bakal bertambah kurang setelah proses seleksi lanjutan.

Betapa tidak, untuk karyawan di 53 perusahaan tersebut tentu masih melewati penyaringan lagi. Dari jumlah 3.344 pelamar kerja yang ada diprediksi bakal berkurang karena gagal melewati prosedur seleksi. Hal ini yang menyebabkan angka kekurangan naker tambah besar dalam tahun ini. Kondisi kekurangan tenaga kerja ini juga dialami perusahaan-perusahaan peserta bursa kerja tahun 2017 lalu.

Baca juga:
Lewat MRO, Hafalkan Qur’an 30 Juz Hanya 118 Hari

Sedangkan Wakil Walikota (Wawali) Kota Tangsel, Drs H Benyamin Davnie dan Kepala Disnakertrans Kota Tangsel, H Purnama Wijaya, SSos, MSi, yang datang bersamaan ke acara Job Fair, menyebutkan, idealnya jika butuh sebanyak 7.923 tenaga kerja maka yang daftar atau melamar pekerjaaan tersebut sekitar 10 ribu orang.

“Para pelamar kerja yang memasukkan surat lamaran dari pelaksanaan Job Fair tiga hari ini, belum tentu diterima sebagai karyawan peruhasaan tersebut kan? Melainkan harus mengikuti serangaian testing, seperti ujian tulis dan interview dulu – gitu ya!” tambah Wawali Benyamin.

Solusinya

Seperti diberitakan sebelumnya di media ini, ada 53 perusahaan yang ikut Job Fair yang digelar pada 22-24 November 2018 lalu. Secara berturut-turut hari pertama terdapat 2.100 pelamar, kedua 1.150 pelamar dan ketiga sebanyak 994 pelamar kerja.

Wawali Kota Tangsel, Drs H Benyamin Davnie, menyebutkan, kondisinya selalu begini dan tidak sekali ini. Berbicara di hadapan peserta Job Fair dalam penutupan acara, ia mengatakan, kondisi tahun 2017 lebih buruk. Karena peluang kerja sebanyak 10 ribu ternyata hanya diisi pelamar kerjanya kurang dari 40 %.

Wawali Benyamin, mengingatkan agar kegiatan Job Fair (Bursa Kerja) selanjutnya harus ada komunikasi lebih dulu dan lebih lama dengan pihak perusahaan penyedia lapangan kerja. Hal ini sebagai solusi kegiatan yang digelar di Alun-alun Bumi Serpong Damai (BSD) Tangsel yang sepi peminat.

Meskipun demikian, Wawali Tangsel ini tetap menyampaikan terima kasih, karena perusahaan peserta Job Fair memberikan peluang pertama bagi warga Tangsel. Karena itu ia berharap agar para pengusaha tetap bersedia mengikuti program Job Fair pada tahun mendatang. Hanya saja harus ada solusi jika mengadakan bursa tenaga kerja seperti sekarang.

Baca juga:
Gedung Lantai 7 Kemenhan Terbakar

“Ini bukan pertama kali, tapi selalu begini. Karena Job Fair tahun lalu peluang kerja 10 ribu, tapi hanya diisi kurang dari 40 % yang pelamar lewat Job Fair,” kata Wawali Tangsel ini.

Lebih jauh Wawali Benyamin, mengatakan, solusi penyelenggaraan Job Fair tahun depan, misalnya pihak Disnakertrans membantu menghubungi seluruh SMK/SMA pada tiga bulan sebelumnya. Prinsipnya harus ada komunikasi lebih awal antara Disnakertrans dengan pihak pengusaha. Bila perlu seluruh pimpinan sekolah SMA dan SMK diberikan surat pemberitahuan soal peluang kerja pada bursa kerja (Job Fair). Minimal tiga bulan, lanjut Benyamin, sudah disebarluaskan suratnya.

Menurut Wawali, memang kesulitan sekarang karena lembaga sekolah tingkat SMA/SMK yang lulusannya banyak dibutuhkan perusahaan, bukan lagi kewenangan pemerintah tingkat II. Melainkan murid, guru dan lembaga SMA/SMK menjadi tanggung jawab pemerintahan wilayah tingkat I.(oko)

Penulis dan Editor: Djoko Sahid

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed