by

Rufaida, Wanita Juru Rawat Perang Badar

-Islam-111 views
Masjid kunon Salaman di Medinah tempat Rufaida dulu merawat korban perang.

DuaLink.id: Siapa bilang wanita tidak mendapat tempat dalam kultur Islam? Bahkan, di zaman Rasul pun, sudah ada wanita yang jadi pakar manajemen keperawatan.

Pada era pra-Islam, perkembangan ilmu keperawatan di tanah Arab masih dihambat budaya dan ditekan publik yang sangat maskulin. Susah menemukan bukti sejarah tentang keperawatan di era pra-Islam. Kalau ada kasus sakit, lebih banyak catatan sejarah tentang pria dokter yang bekerja. Sementara, wanita hanya berperan memberi dukungan emosional dan menenangkan si sakit.

Pada era Nabi Muhammad, perkembangan teknologi dan arsitektur menghasilkan konstruksi banyak rumah sakit baru dan metode baru merawat orang sakit. Ketentuan kala itu masih memisahkan ruang perawatan berdasarkan gender; pria merawat pria dan wanita merawat wanita. Namun, ada beberapa keluwesan soal pemisahan ruang ini dalam kondisi darurat.

Rufaida binti Sa’ad alias Rufaida al-Aslamiyyah bisa disebut sebagai wanita juru rawat pertama dalam sejarah Islam. Sebelumnya, ia termasuk orang-orang pertama di Madinah yang memeluk Islam. Wanita keturunan Bani Aslam dari suku Khazraj itu termasuk golongan Anshar yang menyambut kedatangan Nabi Muhammad yang hijrah dari Mekkah.

Ayahnya, Saad Al Aslami, dokter kenamaan. Dari ayahnya, Rufaida belajar banyak pengetahuan medis dengan cara membantu langsung saat menangani si sakit. Rufaida mendedikasikan diri pada keperawatan orang sakit, dan kemudian menjadi pakar penyembuh. Ia mempraktikkan keahliannya terutama di rumah-rumah sakit lapangan dalam banyak pertempuran.

Rufaida terlibat dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, dan lain-lain. Meski tugas pembedahan dan amputasi hanya boleh dilakukan para pria dokter, Rufaida merawat yang luka atau wafat. Rasul bahkan sering memerintahkan agar korban tempur dibawa ke tenda Rufaida sehingga bisa mendapatkan perawatan yang baik. Tenda Rufaida juga memberi perlindungan pada korban dari angin dan panas gurun.

Baca juga:
Alasan Ustaz Abdul Somad tak Jawab Celaan di Medsos

Selain sebagai juru rawat yang baik dan empatik, Rufaida juga dikenal sebagai manajer handal. Maka, ia melatih sejumlah wanita untuk menjadi perawat dan bekerja di bidang kesehatan. Rufaida juga bekerja sebagai pekerja sosial, membantu mengurai permasalahan sosial terkait penyakit. Ia juga membantu anak-anak yang berkebutuhan, merawat anak yatim, anak cacat, dan miskin.

Salah satu inovasi Rufaida bagi sejarah manajemen klinis adalah mengembangkan unit-unit perawatan mobile. Lewat tenda-tenda perawatan yang bisa dipindahkan, ia bisa dengan cepat memberikan perawatan pada korban bahkan tak jauh dari lokasi pertempuran. Cakupan kerja dalam unit-unit komando medis terorganisir itu antara lain dalam menstabilkan kondisi dan kebersihan pasien sebelum mendapatkan prosedur invasif medis lebih jauh.

Maka, dalam berbagai peperangan, Rufaida memimpin sejumlah relawati perawat untuk merawat korban luka atau wafat. Pada era damai, Rufaida terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan dengan memberi bantuan pada kaum yang membutuhkan.

Hingga sekarang, jasa-jasa Rufaida dikenal bukan cuma di dunia Islam namun juga di dunia keperawatan. Setiap tahun, Royal College of Surgeons di Universitas Bahrain menganugerahkan Rufaida Al-Aslamia Prize in Nursing pada mahasiswa terbaiknya. Pemenang penghargaan itu ditentukan oleh panel staf senior medis. (Teguh Wahyu Utomo)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed