by

Bolehkah Orang Tua Melakukan White Lies Demi Kebaikan Anak?

-Kesehatan-42 views

Ilustrasi : Bolehkah Orang Tua Melakukan White Lies Demi Kebaikan Anak? (Sumber Foto : www.freepik.com)

Ayo, kalau tidak lekas tidur, nanti didatangi hantu; Kalau nakal, nanti Ayah telepon pak polisi; Kalau makanannya tidak dihabiskan, nanti ayamnya mati.

Pernyataan-pernyataan tersebut tentu pernah kita dengar semasa kecil, bahkan masih sering diucapkan orangtua hingga saat ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orangtua menganggap kebohongan mereka bertujuan mengubah keadaan dan perilaku anak.

Contoh berbohong lain yang sering kita dengar adalah orangtua memberi janji palsu kepada anak. Biasanya ini dilakukan saat si anak merengek minta mainan tapi orangtua enggan menuruti. Dengan diberi janji, orang tua berharap si kecil lupa permintaannya.

Ada beberapa situasi yang memaksa orangtua berbohong pada anak. Seringkali hal tersebut dilakukan untuk melindungi perasaan anak agar tidak merasa kecewa atau sedih. Kebohongan jenis ini termasuk jenis white lies atau kebohongan yang bertujuan baik.

Lantas, bolehkah orangtua terus berbohong demi kebaikan anak?

Dr. Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes, dosen psikologi Universitas Airlangga, menjelaskan, white lies meski dilakukan dengan maksud baik, orangtua perlu mempertimbangkan akibatnya pada perkembangan mental anak.

Sering orangtua berbohong pada anak dapat menyebabkan nalar anak kurang berkembang dan dapat membuat anak bingung. Selain itu, kebohongan orangtua akan menimbulkan tanda tanya dan rasa tidak nyaman pada anak.

“Berbohong sejatinya tidak tepat meskipun bertujuan untuk menyenangkan anak. Sikap dan respon orangtua seharusnya menyatakan kebenaran dengan bahasa yang tidak menyakiti hati anak. Caranya, dengan memilih komunikasi yang bisa diterima anak dengan lapang,” terang Nurul.

Anak melihat orangtua sebagai sumber informasi yang akurat dan bisa diandalkan. Ketika orangtua berbohong, lalu anak mengetahui kenyataan sebenarnya, bukan tak mungkin si anak akan ragu terhadap dirinya sendiri, bahkan meniru perilaku orang tua untuk berbohong.

Baca juga:
Terapi Bermain Bisa Turunkan Stres Anak Korban Perceraian

Dalam penelitian Hays dan Carver yang dimuat Science Daily, disebutkan anak cenderung berbohong kepada orang yang juga berbohong kepadanya. Anak lalu merasa tak perlu menjunjung komitmen kepada orang yang sudah membohonginya.

Oleh sebab itu, lanjut Nurul, berkomunikasi secara terbuka terhadap anak adalah kunci kesuksesan membangun relasi harmonis orangtua–anak. Strategi berkomunikasi pada setiap anak dan orangtua pasti berbeda karena setiap anak memiliki keunikan dengan karakteristik tertentu.

“Demikian juga setiap tahapan perkembangan anak menunjukkan pola dan seni berkomunikasi yang tidak sama. Kenali dengan benar karakteristik anak melalui relasi attachment (kasih sayang) yang kuat dan positif. InsyaAllah orangtua akan mampu membangun komunikasi efektif dengan anak,” jelasnya. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed