by

Perjuangan Berat Muslim di Xinjiang

-Islam-238 views

Ilustrasi: Kaum Muslimin

DuaLink.id: Islam di Cina sudah ada lebih dari 1.400 tahun lalu lewat berbagai interaksi. Diperkirakan, 2% dari total populasi Cina adalah kaum Muslim. Namun, kaum Uighur Muslim di Xinjiang punya nasib berbeda.

Saat ini, boleh dikata gampang menemukan Muslim di seluruh penjuru Cina. Dari 55 kelompok etnis minoritas yang resmi diakui di Cina, sepuluh adalah Muslim terutama Sunni. Kebanyakan populasi Muslim tersebar di provinsi-provinsi barat hingga tengah yakni Xinjiang, Gansu, Ningxia, Henan, bahkan di Mongolia. Kaum Muslim juga bisa ditemukan di provinsi tenggara di Yunnan. Selalu ada Muslim di kota-kota besar atau kawasan semacam Beijing, Tianjin, Shandong, Jiangsu, Sichuan, Fujian, Guangxi, hingga Hainan.

Minoritas Cina Muslim biasa dikenal sebagai kaum Hui. Namun, ada kelompok Muslim yang bukan orang Cina. Mereka adalah Muslim Tibet di Tibet dan kaum Uighur di Xinjiang. Nah, kelompok etnis beda ini dianggap sebagai separatis oleh pemerintah Cina.

Di Cina, Xinjiang berada di pucuk barat-laut dan berbatasan dengan Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan dan India. Wilayah otonom ini sangat kaya cadangan minyak bumi dan gas alam. Dalam sejarah, kawasan ini juga sangat penting dalam rute perdagangan ‘Jalan Sutra’ melewati lembah Tarim menembus pegunungan curam.

Xinjiang punya lebih dari 24.000 masjid. Masjid Agung Shaanxi di ibukota Urumqi disebut-sebut sebagai masjid tertua di Xinjiang. Asosiasi Islam Urumqi bertempat di gedung perkantoran Komite Urusan Agama Nasional di Urumqi.

Xinjiang menjadi tempat tinggal utama kaum Uighur, plus kaum Kazakh, kaum Tajik, Kirgiz yang Muslim, kaum Mongol, serta kaum Hui (Cina Muslim) dan belakangan ini berdatangan kaum Han (orang Cina dari timur). Orang Uighur, seperti halnya Kazakh, Tajik, dan Kirgiz, bukan etnik Cina. Mereka lebih dekat dengan kaum Turki dan bahkan berbahasa mirip Turki.

Baca juga:
PDM Gresik Sukses Kembangkan Pengajian Ahad Pagi

Kaum Uighur ini punya bentuk fisik, budaya, pengalaman sejarah, yang berbeda dengan orang Cina. Fisiknya lebih mirip orang dari kawasan Timur Tengah, budayanya lebih dekat ke Ottoman Turki, dan sejarahnya selalu menentang imperium Cina. Kaum Uighur juga semakin gusar karena semakin deras mengalirnya kaum Han ke Xinjiang akibat dorongan pemerintah di Beijing.

Bertahun-tahun kaum Uighur dan kelompok minoritas lain Muslim di Xinjiang menentang pemerintahan otoriter Partai Komunis di Cina. Protes mereka merupakan bentuk reaksi terhadap kebijakan opresif pemerintah, pembatasan aktivitas religius, hingga semakin melebarnya diskriminasi Han vs Uighur. Pemerintah Cina dikabarkan melarang puasa, membatasi kehadiran umat ke masjid, melarang cadar, dan sejenisnya.

Pemerintah Cina tentu menolak klaim pihaknya menekan kaum Uighur atau kelompok etnik lainnya. Namun, setiap ada pergolakan atau kerusuhan, aparat Cina sering menyebut ‘teroris dari Xinjiang’. Pemerintahan dan birokrasi di Xinjiang dikuasai kaum Han yang ditunjuk Partai Komunis dari Beijing. Pemerintah hanya melegalkan Quran yang sudah disetujui negara. Mereka mengelola sebagian besar masjid. Mereka juga manyaratkan pria Uighur memotong jenggot dan wanita Uighur melepas hijab jika ingin mendapatkan pekerjaan sektor pemerintah.

Tak heran jika sejumlah kelompok separatis Uighur berjihad mengupayakan kemerdekaan sepenuhnya Xinjiang dari Cina dan mengubah nama kawasan itu menjadi ‘Turkestan Timur’. Upaya pemisahan diri ini mendapat reaksi sangat keras dari pemerintah Cina. Bahkan gerakan kecil saja langsung mendapat tekanan dari pemerintah Cina. Misalnya, ulama terkenal Ilham Tohti beberapa saat lalu diciduk polisi dari rumah tanpa penjelasan.

Perlakuan pemerintah Cina terhadap kaum separatis Uighur di Xinjiang ini tak ubahnya dengan perlakuan mereka terhadap kaum Budha pimpinan Dalai Lama di Tibet.(*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed