by

Ibnu Battutah, Sudah Mengglobal 300 Tahun Lalu

-Islam-158 views

DUALINK.id – Globalisasi bukan terjadi hanya zaman sekarang. Berabad-abad lalu, sudah ada upaya menjelajahi jagad ini dengan berbagai cara dan tujuan. Selain lewat perdagangan, salah satunya adalah lewat perjalanan kelling dunia.

Di zaman internet, orang tinggal klik satu tititk di layar kaca maka ia sudah seolah-olah berada di situ. Di zaman transportasi canggih, orang tinggal terbang sekian jam dengan pesawat untuk mencapai tempat-tempat yang jauh. Di zaman otomatisasi transaksi, orang cukup bawa kartu plastik untuk menggantikan bekal berkeranjang-keranjang saat melakukan perjalanan.

Tiga ratus tahun lalu, orang harus berjalan kaki, naik hewan, atau naik kapal saat melakukan perjalanan jauh. Waktu tempuhnya bisa bertahun-tahun untuk sampai di tujuan, dan bertahun-tahun pula untuk kembali ke tempat asal. Namun, perjalanan jauh dan lama itu bisa meninggalkan catatan tentang perkembangan suatu zaman. Ini lah pentingnya petualang zaman dulu.

Salah satu petualang besar dari dunia Islam adalah ʾAbū ʿAbd al-Lāh Muḥammad ibn ʿAbd al-Lāh l-Lawātī ṭ-Ṭanǧī ibn Baṭūṭah), atau biasa disebut Ibnu Battutah(1304-1369). Sejarahnya bisa jadi melebihi para penjelajah semacam Leif Ericson (970-1020), Marco Polo (c.1254-1324), Laksamana Cheng Ho (1371-1433), Bartolomeu Dias (1451-1500), Christopher Columbus (1451-1506), Ferdinand Magellan (1480-1521), Vasco da Gama (1460/1469-1524), James Cook (1728-1779), atau Neil Armstrong (1930-2012) dan Yuri Gagarin (1934-1968).

Masing-masing penjelajah punya kontribusi dalam sejarah. Armstrong dan Gagarin adalah penjelajah angkasa. Columbus, Magellan, Da Gama, dan Cook terkait dengan eksplorasi dan eksploitasi dunia baru untuk kolonisasi. Ibnu Battutah khusus menjelajahi kawasan-kawasan berpenduduk Islam dan didorong oleh nasihat Rasul untuk menuntut ilmu bahkan sampai ke negeri Cina.

Ibnu Battutah lahir dari keluarga kaya-raya di Tanjier, Kerajaan Maroko, di sisi utara benua Afrika. Waktu masih muda, ia belajar madhzab Maliki untuk menjadi hakim. Setelah usai belajar, ia berniat pergi haji ke Mekkah. Ia mempersiapkan diri untuk perjalanan darat 3.000 mil menyusuri pantai utara Afrika menuju Semenanjung Arab. Pada Juni 1325, dalam usia 21 tahun, ia mengwali perjalanan panjangnya.

Baca juga:
Hindari Penyebab Kerasnya Hati

Untuk semua perjalanan, ia membuat tiga peraturan. Pertama, jangan mengambil rute yang sama dua kali. Kedua, pastikan mendapat pengetahuan baru sepanjang perjalanan. Ketiga, keselamatan diri adalah hal utama. Maka, ia melakukan perjalanan dengan mengikuti rombongan karavan untuk mengurangi risiko dirampok dan dibunuh. Kalau ada huru-hara, ia lebih memilih memutar jalan.

Setelah menembus gurun, dan berlayar di Sungai Nil lalu menyeberang Laut Merah, akhirnya ia tiba di Semenanjung Arab. Lewat Suriah, ia ikut karavan onta menuju Madinnah. Begitu sampai di Mekkah, ia menjadi takjub melihat begitu banyak manusia dari berbagai penjuru dunia untuk melakukan ibadah haji –seperti yang ia sedang lakukan.

Seusai melengkapi semua aturan haji, Ibnu Batuttah tidak ingin langsung pulang ke tanah airnya di Maroko. Ia malah memutuskan melanjutkan perjalanan dan menambah pengetahuan. Tidak sekadar jalan-jalan, ia menuliskan setiap pengalamannya tentang kawasan-kawasan baru. Catatan harian itu lah yang nantinya diterbitkan sebagai Rihla.

Maka, dalam 24 tahun perjalanannya, ia mencatat apa-apa yang terjadi di Afrika Utara, kawasan Tanduk Afrika, Afrika Barat, menyeberang ke Eropa Timur dan sebagian Eropa Barat, kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara, hingga ke Cina. Jika ditotal, perjalannya mencapai 117.500 km dan setara dengan 44 negara modern saat ini.

Peta perjalanan global Ibnu Battutah

Di kawasan Maghribi, ia mengunjungi Tanjier, Fez, Marrakes, Tilimsan, Miliana, Aljier, Pegunungan Djurdjura, Béjaïah, Qusantînah, Annaba, Tunis, Susah, Sfakh, Jabès, Tripoli. Di kawasan Arab Mashriq, ia mampir di Kairo, Alexandria, Damietta, Yerusalem, Bethlehem, Hebron, Damaskus, Latakia, Mesir, Syria, Medinah, Jeddah, Mekkah, Najaf, Rabigh, Oman, Dhofar, Hajr (sekarang Riyadh), Bahrain, Al-Hasa, Selat Hormuz, Yaman, dan Qatif.

Di Spanyol, ia mampir di Granada dan Valencia. Di Imperium Byzantium dan kawasan Eropa Timur, ia berada di Konya, Antalya, Bulgaria, Azov, Kazan, Sungai Volga, Konstantinopel.

Di kawasan Asia Tengah, ia mengunjungi Khwarezm dan Khorasan (sekarang jadi Uzbekistan, Tajikistan, Balukhistan dan Afghanistan), Bukhara dan Samarqand, dan kawasan Pashtun.

Baca juga:
Al-Zarqālī, Si Tukang Logam Inspirator Astronomi

Di Asia Selatan, ia mampir di India sisi utara, Sindh (Pakistan), Multan, Delhi, kawasan sekarang Uttar Pradesh, kawasan yang sekarang jadi Gujarat, Maharashtra, Kozhikode, Malabar, Kerajaan Pandiyan, Bengal (sekarang jadi Bangladesh), Sungai Brahmaputra, Sungai Meghna, Sylhet, menyeberang ke Maldives, dan Sri Lanka.

Di Cina, ia mampir ke Quanzhou, Hangzhou, dan Beijing.

Di Asia Tenggara, ia mampir ke Burma (sekarang Myanmar), Samudera Pasai di Sumatra, Malakka di Semenanjung Malaya.

Di kawasan Tanduk Afrika, ia mengunjungi Somalia, Mogadishu, Zeila, Pantai Swahili, Kilwa dan Mombasa. Di Imperium Mali dan Afrika Barat, ia mengunjungi Timbuktu, Gao, Takedda. Ia juga mampir ke Mauritania.

Pada tahun 1345, Ibnu Battutah mampir ke ujung utara Sumatra ke Kesultanan Samodra Pasai (sekarang sekitar Lhokseumawe). Kunjungannya ini menyusul kunjungan yang dilakukan Marco Polo pada 1292. Catatan dua penjelajah ini menegaskan adanya kerajaan Islam di Pasai.

Memang, tidak jelas kapan Islam pertama kali masuk ke kawasan yang kini disebut Indonesia. Ada yang menyebut, sekitar tahun 700 sudah ada penyebaran Islam di Aceh. Pelabuhan dagang Perlak, yang konon berdiri tahun 804, sudah diperintah secara Islam sebagai kerajaan. Meski demikian, yang besar adalah Samudra Pasai setelah pada 1297 menjadi kerjaaan Islam.

Dalam buku Ibn Battuta’s Trip, terjemahan Rihla yang diterbitkan Berkeley, ada bab 9 tentang perjalanan melewati Selat Malaka menuju Cina 1345 – 1346. Bab ini membahas sedikit soal Pasai. Dalam catatannya, Ibnu Battutah menulis kaum Muslim di Pasai mengikuti madhzab Shafi’i. Penguasa Pasai adalah Muslim saleh yang beribadah maksimal. Dia memuji kebaikan dan keramahan yang ditunjukkan Sultan Pasai. Saat dua minggu tinggal di Pasai, ia diinapkan di tempat berdinding kayu sebagai tamu Sultan. Kemudian, Sultan memberinya bekal persediaan dan mengirim salah satu jung milik Sultan untuk perjalanan ke Cina. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed