by

Mengabdi Sepanjang Hayat

-Hikmah-132 views

 

DUALINK.ID: Luar biasa. Begitulah sahabat saya yang satu ini. Dibalik sikapnya yang agak kasar tapi humoris, tersimpan mutiara.

Sekian lama tidak ketemu. Tiba-tiba tadi silaturahmi ke rumah saya. Banyak hal menarik yang dia sampaikan.

Bukan soal kematian ayah dan ibunya yang menarik perhatian saya.

Sikap tawaduk kepada orang tuanya itu membuat saya merasa kurang maksimal mengabdi kepada ibu bapak.

Saya delapan bulan merawat ibu, katanya memulai cerita. Setiap hari saya yang memandikan ibu saya dengan senang hati, lanjutnya. Karena faktor usia, ibunya tidak bisa melihat sesuatu.

Sahabat saya ini bertekad menunjukkan sikapnya yang terbaik pada ibunya.

Bayangkan, dialah yang gendong ibunya, menyuapi setiap makan, memandikan, mengganti pampes, “membedaki”, mengantar dan menunggu BAB, menyediakan sarapan, membelikan kucur setiap hari, kue kesukaannya.

Dia melayani ibunya secara total tanpa rasa risih apalagi jijik ketika menunggu BAB, “Saya tidak pernah pakai masker atau penutup hidung,” ujar ayah dua anak ini.

Dia pula yang mensucikan usai BAB dengan tangannya sendiri. Atas permintaan ibunya, pria energik ini memggunakan kaki. Mungkin ibunya malu.

Karena melayani ibunya itu pekerjaannya sering terbangkalai tapi tidak menyesal.

Terkadang saking capeknya, tidurnya nyenyak. Walau ada tetangganya punya gawe dengan nyetel sound keras-keras dia tidak terganggu. Dia bisa tidur nyenyak.

Aneh nggak kalau ibunya memanggil dari kamar sebelah walaupun sedang tidur nyenyak dia langsung bangun melayani apa yang dia mau.

Begitu kegiatan rutin yang dilakukan selama delapan bulan.

Terakhir ketika ibunya menghembuskan nafas terakhir, sahabat saya itu sedikit protes. “Kenapa ibu meninggal lha wong saya masih siap melayani dengan senang hati.” (*)

Bagikan Sekarang!
Baca juga:
Menjadi Pribadi Khusyuk Sosial

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed