by

Mayoritas Infeksi Coronavirus Ternyata Ringan

DUALINK.id – Meski beritanya menghebohkan dunia, sebenarnya kebanyakan orang yang terinfeksi virus corona baru (COVID-19) di Cina memiliki gejala ringan-ringan saja. Meski demikian, pasien usia tua dan yang memiliki kondisi tertentu, menghadapi risiko tertinggi dari penyakit ini.

Virus corona dikabarkan telah meminta korban hampir 1.900 orang dan menginfeksi lebih dari 72.000 orang di Cina sejak pertama kali muncul di pusat kota Wuhan akhir tahun lalu.

Ada makalah yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina (CCDC) dalam Chinese Journal of Epidemiology dan dikutip Agence France-Presse edisi Rabu (19/02). Makalah ini hasil studi terbesar terhadap pasien COVID-19 sejak wabah dimulai akhir Desember.

Menurut laporan para peneliti, ada 72.314 kasus yang dikonfirmasi, diduga, didiagnosis secara klinis, dan tanpa gejala penyakit COVID-19 di seluruh Cina hingga 11 Februari. Temuan-temuan utama dari makalah itu sebagai berikut;

Lansia, berisiko tertinggi

Sekitar 80,9 persen terinfeksi diklasifikasikan sebagai ringan-ringan saja, 13,8 persen parah dan hanya 4,7 persen kritis.

Tingkat kematian keseluruhan dari virus itu mencapai 2,3 persen. Ini jauh lebih rendah dibanding wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) tahun 2002-2003 yang berdampak pada lebih sedikit orang, namun tingkat kematian hampir 10 persen.

Tingkat kematian tertinggi untuk orang berusia 80 atau lebih tua, yaitu 14,8 persen. Tidak ada kematian bagi anak-anak usia hingga 9, meski setidaknya ada dua kasus bayi baru lahir sudah terinfeksi melalui ibu mereka. Hingga usia 39, angka kematian tetap rendah yakni 0,2 persen. Tingkat kematian meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia. Untuk usia 40-an, tingkat kematiannya 0,4 persen, di usia 50-an jadi 1,3 persen, usia 60-an hingga 3,6 persen, dan 70-an naik 8,0 persen.

Baca juga:
Masa Pandemi, Imunisasi untuk Anak Sebaiknya Tetap Dilakukan

Pasien yang punya penyakit kardiovaskular kemungkinan besar meninggal akibat komplikasi dari COVID-19, diikuti pasien dengan diabetes, penyakit pernapasan kronis dan hipertensi. Pria lebih mungkin mati (2,8 persen) daripada wanita (1,7 persen).

Kasus Wuhan

Hampir 86 persen dari mereka yang tertular pernah tinggal atau bepergian ke Wuhan. Di kota ini, ada pasar makanan yang menjual hewan liar secara ilegal dan diyakini sebagai sumber virus. Sejak 23 Januari, kota di provinsi Hubei ini dikunci dari berbagai aktivitas.

Risiko pekerja medis

Hingga 11 Februari, 3.019 petugas kesehatan didiagnosis tertular, 1.716 di antaranya terkonfirmasi sakit, dan lima meninggal. Analisis terhadap 1.688 kasus parah di antara staf medis menunjukkan, 64 persen dari mereka bekerja di Wuhan.

“Namun, persentase kasus parah di antara staf medis Wuhan secara bertahap menurun, dari 38,9 persen pada puncaknya (28 Januari) menjadi 12,7 persen pada awal Februari,” kata laporan itu.

Seorang direktur rumah sakit di Wuhan meninggal karena penyakit itu pada Selasa kemarin. Awal bulan ini, dokter mata Li Wenliang yang telah dihukum pihak berwenang karena mengungkapkan alarm virus corona, juga meninggal.

Tren penurunan

Epidemi ini mencapai ‘puncak pertama’ antara 24 dan 26 Januari. Sekarang telah ada ‘tren menurun’ dalam kurva epidemi secara keseluruhan. Sejak 11 Februari, penyebaran penyakit, terutama di luar provinsi Hubei, sudah melambat.

Pada 13 Februari, Cina memperluas definisi kasus yang dikonfirmasi. Mereka yang secara klinis didiagnosis melalui pencitraan paru juga dimasukkan ke dalam kasus corona. Ini sebagai tambahan atas mereka yang dites positif dalam laboratorium.

Makalah penelitian mengisyaratkan, keputusan Cina untuk mengunci Wuhan (kota dengan 11 juta penduduk) dan memberlakukan pembatasan ketat transportasi di daerah-daerah lain yang terkena dampak, mungkin memberikan hasil bagus.

Baca juga:
Kante dan Hazard, Gaji Setara £300.000 pada Kontrak Baru

Kemungkinan rebound

Virus menyebar ketika jutaan orang melintasi Cina tertuama Wuhan untuk liburan Tahun Baru Imlek akhir Januari. Dengan banyak orang kembali dari liburan, Cina khususnya Wuhan perlu bersiap diri untuk “kemungkinan bangkitnya epidemi”.

Virus Corona dapat terus beradaptasi dari waktu ke waktu dan menjadi lebih ganas. Maka, masyarakat luas dan para dokter harus tetap waspada. (*)

 

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed