by

Tiada Perbuatan Tanpa Balasan

-Hikmah, Islam-250 views

DUALINK.ID: Setiap manusia diberi kebebasan berbuat semaunya. Tetapi, perlu diingat bahwa tidak satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengawasan Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Sekecil apa pun perbuatan manusia akan diperhitungkan dan diberi balasan. “Barangsiapa yang berbuat kebaikan seberat biji sawi dia akan melihat balasannya. Barangsiapa yang berbuat keburukan sebesar biji sawi dia akan melihat balasannya. ” (Q.S. Al-Zilzalah: 7–8).

Sebagaimana tertera dalam firman Allah tersebut bahwa perbuatan manusia terbagi menjadi dua kelompok. Pertama: Perbuatan mulia yang dapat mengangkat pelakunya menjadi orang mulia. Kedua: Perbuatan tercela yang dapat menghinakan dan mencelakakan pelakunya.

Salah satu contoh perbuatan tercela misalnya pembunuhan seperti dilakukan oleh Qabil terhadap adiknya sendiri, Habil. Perbuatan tersebut dilarang karena berbahaya dan bisa berakibat fatal.

Setiap orang tidak diperbolehkan melakukan pembunuhan, baik terhadap sesamanya maupun terhadap sesama makhluk ciptaan Sang Khalik. Membunuh lalat, misalnya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ada dua orang (sebut saja Khusrin dan Jinan) sedang mengembara. Ketika sampai di perbatasan sebuah desa, keduanya melihat bahwa perbatasan desa tersebut dijaga oleh beberapa petugas.           Orang asing dilarang melewati jalan tersebut, kecuali mau memenuhi persyaratan yang telah menjadi kesepakatan penduduk.

Persyaratannya, setiap orang yang melewati jalan tersebut harus meletakkan sesaji di hadapan patung yang menjadi pujaan dan sesembahan penduduk setempat. Jika tidak mau bersesaji, ia tidak boleh melanjutkan perjalanannya dan harus dihukum mati.

Khusrin mencoba meneruskan perjalanan, tetapi tidak diperbolehkan karena belum bersesaji.

“Penuhi dulu persyaratannya sebelum melanjutkan perjalanan!” kata seorang petugas.

“Aku tidak memiliki apa-apa untuk bersesaji, ” kata Khusrin.

“Kamu bisa mencari hewan apa saja di sekitar sini untuk bersesaji, ” kata petugas yang lain dengan nada agak memaksa.

Baca juga:
Prof Dr Achmad Jainuri MA - Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya: "Hasrat Penguasa"

Khusrin berusaha mencari hewan untuk bersesaji agar bisa melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, ia kembali dengan tangan kosong. Ia tidak menemukan hewan untuk bersesaji.

“Aku tidak menemukan hewan untuk bersesaji, ” katanya kepada petugas.

“Baiklah, kamu bisa saja membunuh lalat dan mempersembahkannya kepada patung sesembahan kami, ” kata petugas.

Tidak lama kemudian, Khusrin berhasil membunuh seekor lalat. Lalu menaruhnya di hadapan patung yang sejak tadi hanya diam saja.

Jinan pun mencoba meneruskan perjalanannya. Tetapi petugas melarangnya karena persyaratannya belum dipenuhi.

“Penuhi dulu persyaratannya! ” kata petugas.

“Aku tidak sanggup memenuhinya, ” jawab Jinan.

“Bersesajilah dulu seperti yang dilakukan temanmu itu! ” kata petugas yang lain.

“Tidak. Aku tidak mau bersesaji walaupun hanya berupa seekor lalat, ” jawab Jinan tegas.

Karena Jinan menolak persyaratan itu, para petugas bersama-sama merobohkannya. Kaki dan tangannya mereka ikat erat-erat. Seorang petugas mengayunkan pedangnya ke leher Jinan. Darah segar mengalir dari leher Jinan yang telah terputus.

Jinan menghembuskan napas terakhirnya dengan tersenyum.

Dari cerita tersebut dapat diketahui bahwa Khusrin selamat. Ia merasa senang karena dapat melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, kesenangan itu hanya di dunia. Di akhirat kelak ia akan hidup sengsara di dalam neraka.

Mengapa begitu? Karena di dalam Islam ditetapkan bahwa bersesaji merupakan perbuatan terlarang. Pelakunya mendapatkan dosa dan di akhirat kelak akan dibakar dengan api neraka yang menyala-nyala.

Jinan pun merasa senang. Ia berhasil mempertahankan keyakinannya. Ia tidak berani melanggar ketetapan agamanya.

Kesenangan Jinan akan berlanjut hingga di akhirat. Ia akan hidup bahagia di dalam surga.(Mulyo, Trenggalek)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed