by

Ibn al-Haytham, Si Gila Pionir Metode Ilmiah

-Islam-129 views

DUALINK.id – Mana yang lebih signifikan; temuan ilmiah atau metode ilmiah? Tentu saja, keduanya berjalan beriringan dan saling mendukung. Nah, Abu Ali al-Hasan ibn al-Hasan ibn al-Haytham menjadi salah satu pelopornya.

Metode ilmiah bisa didefinisikan sebagai tata cara untuk menginvestigasi suatu fenomena, mendapatkan pengetahuan baru, atau mengoreksi dan kemudian mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Itu juga bisa diartikan sebagai metode, tuntunan, dan sistem paling mendasar di mana kita mendapatkan, menyuling, mengembangkan, lalu menerapkan pengetahuan di segala bidang. Bahkan, proses mengubah teori-teori yang sudah ada adalah bagian integral dari metode ilmiah.

Setelah debat sangat panjang, para ilmuwan sependapat bahwa langkah-langkah metode ilmiah adalah; mengajukan pertanyaan, melakukan riset awal, menyusun hipotesis, menguji hipotesis dengan eksperimen, menganalisis data sehingga menghasilkan kesimpulan, lalu mengumumkan hasil temuan itu.

Salah satu langkah paling penting dalam metode ilmiah adalah eskperimen. Nah, Ibn al-Haytham disebut-sebut sebagai ‘ilmuwan murni pertama’ karena selalu melakukan eksperimen untuk membuktikan temuannya. Sebelumnya, ranah sains lebih mirip filsafat yang diterima begitu saja sepanjang masuk akal. Di tangan Ibn al-Haytham, sains harus diuji lewat eksperimen (i’tibar).

Metodologi keilmuan era awal diletakkan dalam empirisisme Aristoteles yang memisahkan sains dengan mitos. Lalu, muncul metode eksperimental induktif yang dipelopori Ibn al-Haytham. Metode ini kemudian dikembangkan oleh Al-Biruni, Ibnu Sina, Robert Grosseteste, Roger Bacon, para ilmuwan di era humanisme pencerahan seiring berkembanganya kedokteran, ditajamkan oleh skeptisisme sebagai landasan bagi pemahaman, kemudian berkembang metode induksi eliminatif oleh Francis Bacon, hingga Galileo Galilei dan aturan penalaran oleh Isaac Newton. Kemudian, berkembang metode yang memadukan deduksi dan induksi oleh Charles Sanders Peirce.

Ibn al-Haytham, yang lahir tahun 965 di kota Basra (sekarang di Irak), adalah ilmuwan berbagai bidang yang berkembang di ‘era emas’ peradaban Muslim. Menghabiskan sebagian besar waktu produktifnya di Kairo (sekarang di Mesir), Ibn al-Haytham menuliskan komentar-komentar mendalam tentang karya Aristoteles, Ptolemius, dan pakar matematika Euclid. Ia juga memberi kontribusi utama bagi prinsip-prinsip optika. Dalam karyanya Kitab Optika yang diterbitkan sekitar seribu tahun lalu, ia pertama kali memberi deskripsi jelas dan analisis tepat tentang al-Bayt al-Muthim (kamera obskura).

Baca juga:
Film Jejak Langkah 2 Kyai NU-MD Akan Diputar di Pendapa

Ia juga ahli dalam bidang filsafat, matematika, fisika, rekayasa teknik, anatomi, pengobatan, psikologi, astronomi, optalmologi, hingga persepsi visual. Karena kecerdasannya, ia disebut-sebut bisa mengendalikan banjir Sungai Nil dengan serangkaian dam dan bendungan. Namun, ia sadar akan kekuatan lain yang lebih besar di luar kendalinya. Menghindari ancaman hukuman mati dari Khalifah Al-Hakim bi Amrullah terkait keterbatasannya, ia berpura-pura menjadi gila. Maka, ia pun hanya dikenai tahanan rumah. Nah, dalam kondisi terkucil sendirian, Ibn al-Haytham melakukan berbagai eksperimen.

Di Mesir pada abad ke-11, masih berlaku pemikiran kuno Aristoteles bahwa benda-benda bisa dilihat mata manusia karena mengeluarkan cahaya. Namun, saat Ibn al-Haytham terbaring sendirian dalam sel gelap di penjara, ia mempertanyakan mengapa benda-benda di dalam ruang itu tidak mengeluarkan cahaya. Muncul pertanyaan gilanya, “Apa mungkin ilmuwan kuno itu keliru?”

Pertanyaan gila itu lalu mendorong ia melakukan eksperimen dengan lilin dan tembaga dalam sel penjara. Dari eksperimen sederhana itu, ia membuktikan bahwa tidak ada ‘bentuk’ misterius yang dipancarkan oleh semua benda; yang ia buktikan justru ada sumber-sumber utama cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda lainnya. Dalam sel gelap, ia bisa mematahkan pemikiran Aristoteles. Dalam sel gelap, ia meletakkan dasar-dasar metode ilmiah yang baru dikembangkan di dunia Barat sekitar 200 tahun kemudian.

Ibn al-Haytham menjalani kehidupan di penjara sekitar sepuluh tahun hingga Sang Khalifah lalim meninggal. Menikmati dunia bebas, Ibn Al-Haytham melanjutkan studinya. Ia memberi banyak kontrobusi pada jagad ilmu terutama soal metodologi. Dia lah yang pertama kali menemukan prinsip Fermat dan konsep inertia (yang menjadi hukum gerak Newton), menemukan bahwa tubuh manusia juga diatur hukum fisika, merombak prinsip astronomi Ptolemeus, pionir apa yang kini dikenal sebagai teorema Wilson tantang angka, merumuskan kalkulus dan induksi matematik, hingga memberi dasar-dasar bagi astronomi teleskopik dan bagi sains mikroskopis.

Baca juga:
Cegah Narkoba DP MUI Bentuk Ganas An Nar

Ilmuwan gila yang merombak banyak pemikiran dan metodologi lama itu akhirnya wafat dengan tenang pada tahun 1040 di Kairo. Para ilmuwan mengenangnya sebagai pionir metode ilmiah dan penggagas sains eksperimental. Wajar jika ia dijuluki sebagai ‘ilmuwan pertama’ karena alasan metodologis ini. Dunia Barat mengenal namanya dalam bahasa Latin sebagai Alhzen atau Alhacen. Salah satu celah di Bulan diberi nama Alhazen untuk menghormatinya. Begitu juga dengan asteroid 59239 yang diberi nama Alhazen.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed