by

Muhammad ibn Zakariyā Rāzī, Pionir Ilmu Cacar

-Islam, Kesehatan-150 views

DUALINK.idMungkin, sekarang jarang dijumpai orang kena cacar. Paling-paling, ada sedikit jejak cacar air di kulit wajah sejumlah kecil orang. Namun, dulu cacar termasuk wabah mengerikan dan fatal. Salah satu orang yang membahas tuntas cacar adalah Muhammad ibn Zakariyā Rāzī.

Entah kapan mulai berkembangnya virus pembawa cacar yang menyerang manusia. Namun, antara tahun 165 hingga 180, tercatat ada Wabah Antonine. Apa yang digambarkan Galen (pionir kedokteran Yunani kuno) ini diduga cacar atau campak. Apa pun itu, salah satu korbannya adalah Lucius Verus sang kaisar Romawi. Selain kaisar, sekitar lima juta orang jadi korban. Setelah itu, virus cacar menyerang manusia secara sporadik maupun mewabah di berbagai penjuru dunia hingga akhir abad 20.

Nah, pada abad ke-9, Muhammad ibn Zakariya Razi mulai mengungkap rahasia wabah itu. Dengan peralatan dan pengetahuan yang ada kala itu, ia bisa membedakan antara apa yang sekarang dikenal sebagai campak, cacar, dan cacar air. Ia juga bisa menjelaskan evolusi virusnya dan periode perkembangannya, sehingga wabah bisa diprediksi dan dihindari.

Buku pionir tentang cacar dan campak ini memberi karakterisasi klinis yang rinci. Dari bahasa Arab, buku ini lalu diterjemahkan ke bahasa-bahasa di Eropa hingga mempengaruhi pendidikan kedokteran di jagad Latin-Barat. Tak heran jika Edward Granville Browne (orientalis Inggris abad 19) mengomentarinya, “Boleh jadi dia itu dokter terbesar dan paling orijinal dari semua dokter, dan salah satu penulis paling produktif.”

Muhammad ibn Zakariya Razi, yang biasa dipanggil Razi atau di jagad Barat dikenal sebagai Rhazes atau Rasis, dilahirkan di kota Rey pada 854 atau seabad pasca Nabi Muhammad. Kota Rey sendiri berada selatan dataran Alborz di ‘Jalur Sutra’ yang selama berabad-abad memfasilitasi pertukaran perdagangan dan budaya antara Timur dan Barat.

Baca juga:
Bolehkah Orang Tua Melakukan White Lies Demi Kebaikan Anak?

Saat muda, Razi pindah ke Baghdad untuk belajar dan berpraktik di bimaristan (rumah sakit) lokal. Kemudian, ia diundang balik ke Rey oleh Gubernur Mansur ibn Ishaq untuk menjadi kepala bimaristan. Di sini, ia mulai melakukan penelitian dan menulis buku. Ada dua buku kedokteran yang ia persembahkan pada al-Mansur, yakni ‘Fisik Spirtual’ dan ‘Al-Mansūrī tentang Kedokteran’. Semakin populer, Razi dipanggil ke Baghdad menjadi direktur rumah sakit baru al-Muʿtaḍid.

Menjelang akhir hayat, ia kembali ke Rey dengan menderita glaukoma. Awalnya hanya katarak, lalu berakhir dengan kebutaan total. Konon, ada dokter yang menawarkan salep untuk mengobati kebutaannya. Namun, Razi menguji dulu dokter itu tentang seberapa banyak lapisan di dalam mata. Karena tidak ada jawaban, Razi menolak pengobatan. “Mata saya tidak boleh dirawat oleh orang yang tidak tahu dasar-dasar anatomi.”

Seorang mantan muridnya dari Tabaristan datang untuk merawatnya. Namun, Razi memberinya penghormatan atas niatan itu lalu memintanya untuk balik. Alasannya, saat-saat ajal sudah datang. Akhirnya, Razi memang meninggal di Rey pada 925 dalam usia 60 tahun. Setelah meninggal, justru ketenaran Razi semakin menyebar dari Timur Tengah ke Eropa pada Abad Pertengahan hingga sekarang.

Razi dikenal sebagai dokter, ahli kimia, dan bahkan polymath. Sumbangannya untuk ilmu pengetahuan tersimpan dalam lebih dari 200 manuskrip. Ia dijuluki dokternya dokter, bapak pediatrik, hingga pionir optalmologi. Ia dikenal atas pengamatan dan penemuannya di bidang kedokteran. Dengan humorisme, ia bisa mengenali pasien penyakit menular atau tidak. Ia juga filsuf dan pemikir besar. Ia menulis tentang etika kedokteran.

Karya tulisnya yang terkenal antara lain; buku pionir al-Judari wa al-Hasbah (Tentang Cacar dan Campak), buku besar ensikopedi al-Hawi (Hidup Berbudi Mulia), Man la Yahduruhu Al-Tabib (Nasihat Medis untuk Masyarakat Umum) petunjuk bagi orang awam tentang pengobatan praktis, Shukuk ‘ala Alinusor (Meragukan Galen) yang mengkritik ilmu kedokteran era Yunani kuno.

Baca juga:
Info Jantungan Disuruh Batuk Itu Hoax

Ia juga menulis tentang; membuktikan ilmu kedokteran, hasil ilmu kedokteren, eksperimen ilmu kedokteran dan penerapannya, klasifikasi penyakit, kedokteran kerajaan, pedoman umum kesehatan bagi yang tidak bisa menemukan dokter, buku sederhana tentang kedokteran, tentang penanganan bencana, tentang makanan dan masalahnya, tentang pembentukan batu di ginjal dan empedu, sakit di pencernaan bawah, sakit di kaki dan tungkai bawah, sakit gigi, tentang liver, sakit jantung, lubang telinga, pembuluh darah, makanan untuk pasien, manfaat madu dan cuka, tentang alat bedah, tentang lemak dan minyak, tentang buah sebelum dan sesudah makan, siklus menstruasi, tentang muntah, tentang salju dan kedokteran, tentang salju dan rasa haus, tentang racun, lapar, tanah untuk kesehatan, tidur berkeringat, pakaian hangat, hingga tentang peran sosial seorang dokter.

Luar biasa.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed