by

Jaga Keajegan Beribadah

-Hikmah, Islam-212 views

Ilustrasi

Tidak ada pilihan lain, tugas manusia adalah beribadah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).

Firman Allah tersebut mewajibkan agar manusia beribadah kepada Allah saja, bukan kepada yang lain.

Karena perintah beribadah itu merupakan kewajiban, maka harus dilaksanakan secara ajeg, rutin, dan berkesinambungan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, kewajiban beribadah itu harus tetap dilaksanakan kapan saja dan di mana saja.

Ketika kaya atau miskin, lapang atau sempit, sehat atau sakit, ketika berada di rumah, di masjid, di tempat kerja, dalam perjalanan, dan di mana saja harus tetap beribadah.

Dalam beribadah atau beramal tidak mengenal kata berhenti sebelum pelakunya mati. “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).”(Q.S. Al-Hijr: 99).

Berkenaan dengan keajegan dalam beramal, Ummul Mukminin, ‘Aisyah r. a. pernah ditanya oleh Alqamah apakah Rasulullah SAW mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal. ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Jika beliau beramal, beliau terus-menerus melakukannya.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Amal yang dilakukan dengan ajeg disukai oleh Allah. “Amal yang disukai Allah ialah yang langgeng meskipun sedikit.” (H.R. al-Bukhari).

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, mengatakan bahwa amal sedikit yang rutin dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat ganda dibandingkan dengan amal yang banyak tetapi sesekali saja dilakukan.

Beramal secara rutin memang perlu dijaga dan dilestarikan. Hal itu harus dilakukan agar tidak tergolong orang-orang yang rugi. “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al-Hajj: 11).

Baca juga:
Calon Penghuni Surga by TV Tausiyah

Firman Allah tersebut menginformasikan bahwa ada sebagian orang beribadah tanpa disertai dengan keyakinan dan keteguhan.

Ketika ia memperoleh kebaikan dunia berupa kelapangan dan kesehatan serta kesejahteraan dan harta yang melimpah, ia senantiasa berpegang teguh pada agamanya dan merutinkan ibadahnya.

Akan tetapi, ketika ia memperoleh cobaan berupa penyakit atau kemiskinan, ia kembali kepada kekafiran.

Sungguh rugi ia di dunia. Kekafirannya tidak akan menambah bagian harta dunia yang tidak ditetapkan baginya. Ia juga rugi di akhirat kelak karena adzab Allah yang akan menimpanya.     (Mulyo, Pendidik di Trenggalek)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed