by

Ibn Sahl Si Penemu Hukum Refraksi

-Islam-49 views

DUALINK.id – Ambil sebatang penggaris lurus, celupkan setengahnya ke dalam air tenang. Penggaris yang lurus itu tampak bengkok pas di permukaan air. Apa benar itu temuan Snellius? Jauh sebelumnya, ilmuwan muslim Ibn Sahl sudah mengungkap rahasianya.


Refraki Snellius bersumber dari teori yang diungkapkan Ibn Sahl.

Dalam berbagai sumber biobibliografis dari periode pertengahan, nama Abu Sa`d al-`Ala’ ibn Sahl (940 -1000) memang tidak tercatat. Namun, namanya dijadikan rujukan oleh ilmuwan muslim Ibn al-Haytham yang hidup antara akhir abad 10 dan awal abad 11. Karya-karya besar Ibn Sahl seolah-olah menghilang lalu diklaim oleh ilmuwan Barat 600 tahun kemudian.

Lalu, Roshdi Rashed pada 1990 menemukan beberapa teks manuskrip Ibn Sahl terpisah jauh di dua perpustakaan; di Teheran (Iran) dan di Damaskus (Syiria). Profesor sejarah sains dari Mesir ini menyusun kembali manuskrip yang tersisa, menerjemahkannya, lalu menerbitkannya menjadi Géométrie et dioptrique au Xe siècle: Ibn Sahl, al-Quhi et Ibn al-Haytham pada 1993. Ini membuat karya Ibn Sahl bangkit kembali.

Dalam reproduksi manuskrip Ibn Sahl, salah satu bagian penting adalah yang membahas segitiga siku-siku. Sisi miring bagian dalam menunjukkan jalan dari sinar datang dan sisi miring bagian luar menunjukkan perpanjangan dari jalan sinar yang dibiaskan jika sinar datang bertemu kristal yang wajahnya vertikal pada titik di mana dua sisi miring itu berpotongan. Rasio dari panjang sisi miring yang lebih kecil ke yang lebih besar adalah kebalikan dari indeks bias dari kristal itu.

Refraksi atau pembiasan adalah berobahnya atau membengkoknya arah jalur gelombang cahaya karena adanya perobahan kecepatan. Pembiasan ini sudah diketahui astronom Ptolemeus di Mesir pada abad kedua, namun belum ditemukan hukumnya atau hitungan matematisnya. Karya Ptolomeus tentang optik ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Bisa jadi, Ibn Sahl membaca karya itu lalu mengembangkan lebih jauh. Karya Ibn Sahl pada tahun 984 itu dibukukan dengan judul On Burning Mirrors and Lenses sebagaimana disebut Prof Roshdi Rashed.

Baca juga:
Ibnu Khaldun, Keilmuannya Bersinar di Antara Kemelut Politik

Ibn Sahl menggunakan hukum refraksi (bias sinar) temuannya untuk mendapatkan bentuk lensa yang bisa memfokuskan cahaya tanpa penyimpangan geometris (di era moderen, itu dikenal sebagai lensa anaklastik).  Selain itu, Ibn Sahl juga mengembangkan cermin parabolik, cermin ellips, lensa cembung, dan teknik menggambar busur hiperbolik. Pemikiran ini kemudian digunakan oleh Ibn al-Haytham antara lain untuk membuat kamera pinhole.

Saat Ibn Sahl mengembangkan hukum refraksi, Eropa masih berada di tengah Zaman Kegelapan dan menunggu sekitar 400 tahun untuk Renaissance. Ketika masa Pencerahan itu tiba, masa keemasan peradaban Islam tergerus dan catatan ilmu pengetahun dilarikan ke Eropa. Ini memberi kesempatan pada Willebrord Snel van Royen, alias Willebrordus Snellius (1580–1626), ilmuwan Belanda, mengembangkan kembali teori refraksi.

Hukum Snell tentang refraksi ini membentuk dasar bagi optika geometris dan secara inheren tertanam dalam seismologi. Hukum Snell digunakan untuk menentukan arah perambatan gelombang melalui antarmuka pembiasan. Berapa banyak gelombang yang membengkok tergantung pada rasio kecepatan antara kecepatan di media pertama dan kecepatan di media kedua. Selain penggunaan faktor sin, hitungan ini sudah ditemukan Ibn Sahl pada 600 tahun sebelumnya.

Ibn Sahl sudah menemukan hukum dan hitungan itu bahkan saat membuat suryakanta. Ia menjawab pertanyaan tentang bagaimana mendesain bukan sekadar kaca tapi juga lensa yang bisa memfokuskan sinar masuk pada jarak tertentu. Ia membedakan dua jenis sinar yang datang. Sinar yang datang dari sumber tertentu, semisal dari matahari, bisa dianggap sebagai berada di jarak jauh tak terbatas. Sinar yang datang dari kaca atau lensa bisa dianggap sebagai berada dalam jarak tertentu. Dengan mempertimbangkan aspek teoris dan aspek praktis dari pertanyaan itu, Ibn Sahl menyatakan hubungan geometris antara sinar yang datang dan sinar yang sudah dibiaskan. Di era moderen, rumus trigonometris dari Hukum Refraksi ini dilengkapi dengan indeks bias dari medium.

Baca juga:
Alasan Ustaz Abdul Somad tak Jawab Celaan di Medsos

Ilmuwan yang lahir di Irak itu hidup pada era keemasan Islam dan bekerja di Istana Abbasiyah di Baghdad. Ibn Sahl mempelajari dan mengembangkan fisika, matematika, dan optika. Ia mengomentari salah satu karya Abū Sahl al-Kūhī. Karya-karya lain tentang kemanusiaan dan sastera mungkin sudah hilang tanpa sempat didokumentasikan.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed