by

Mengapa Kematian Akibat Corona di Iran Tinggi?

DUALINK.id – Sejauh ini, Cina mencatat terjadi 2.663 kematian dari total 77.658 virus corona (COVID-19) yang dikonfirmasi. Di luar Cina, ada dua negara yang patut diwaspadai. Korea Selatan, punya 977 kasus dengan 11 pasien meninggal. Iran hanya ada 95 kasus namun yang meninggal 16 orang. Bahkan, seorang menteri juga terserang.

Kasus di Iran ini menimbulkan pertanyaan bagaimana pemerintah menangani krisis kesehatan masyarakat ini?

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianoosh Jahanpour, pada Selasa mengatakan 15 orang Iran meninggal dari 95 kasus positif COVID-19. Namun, kantor berita Iran kemudian mengabarkan satu orang lagi yang terinfeksi virus corona meninggal di kota Saveh.

Tingkat kematian untuk COVID-19 di Iran sekitar 16 persen. Ini jauh lebih tinggi dibanding kasus episentrum wabah di provinsi Hubei, Cina, yang diperkirakan sekitar 2 persen. Di Korea Selatan, hanya sekitar 1 persen. Dikhawatirkan, Iran bisa menjadi pusat wabah besar di kawasan Timur Tengah. Lebih-lebih, wilayah perbatasannya keropos dengan kawasan koflik dan perang.

Pejabat Iran melaporkan, kasus pertama virus corona ditemukan di kota suci Qom minggu lalu. Kemudian, virus menyebar ke setidaknya tujuh provinsi lain di Iran. Sementara, negara-negara di kawasan, termasuk Irak, Kuwait, Oman dan Afghanistan, melaporkan kasus pertama minggu ini. Dikabarkan, para pasien baru-baru ini mengunjungi Iran.

Rektor Universitas Ilmu Kedokteran Qom, Mohammad Reza Ghadir, mengatakan Kementerian Kesehatan di Teheran melarang merilis angka-angka tentang wabah corona di kota itu. Ketika ditanya wartawan berapa banyak orang dikarantina, Ghadir mengatakan, “Kementerian Kesehatan meminta kami tidak mengumumkan statistik baru.”

Ghadir juga mengatakan, “Sebagian besar tes harus dilakukan di ibukota Teheran dan harus diumumkan.”

Diduga, jumlah total kasus infeksi di Iran lebih tertinggal dibanding pelaporan jumlah kematian. “Ini tampaknya masalah pelaporan,” kata Dr Yanzhong Huang, profesor di Seton Hall University dan mitra senior kesehatan global di Council on Foreign Relations di Amerika Serikat.

Baca juga:
3 Prinsip Keselamatan Tenaga Medis saat Pandemi

Tidak jelas apakah Iran memiliki kemampuan untuk mengetahui seberapa banyak orang yang telah terinfeksi. “Menjelajah kota dan desa untuk melakukan tes itu pekerjaan berat. Jangan hanya mengandalkan siapa yang datang ke rumah sakit besar dengan gejala parah,” kata Dr William Schaffner, profesor kedokteran pencegahan penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center, Amerika Serikat, pada NBC News.

John Torres, koresponden medis NBC News, mengabarkan tidak ada bukti perubahan dalam profil genetik virus sehingga penjelasan untuk tingkat kematian yang lebih tinggi di Iran ini kemungkinan berkaitan dengan bagaimana orang melacak kasus-kasus infeksi. “Tidak ada perubahan DNA signifikan dalam virus. Virus belum bermutasi di tempat lain,” kata Torres.

Upaya memerangi virus corona memang ada di Iran. Namun, anggota parlemen Mamoud Sadeghi, dan Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harirchi, yang memimpin satuan tugas memerangi COVID-19, justru dinyatakan positif terkena virus korona.

Media pemerintah Iran mengungkapkan, berita itu datang sehari setelah Harirchi muncul pada konferensi pers dengan penampilan seperti sedang demam lalu meraih tisu untuk menghapus keringat di alisnya. Dia tidak mengenakan masker wajah ketika juru bicara kementerian yang berdiri di sampingnya menyatakan keyakinan tentang tanggapan pemerintah terhadap krisis.

“Aku mengatakan ini dari lubuk hatiku, jaga dirimu baik-baik,” kata Harirchi dalam video yang dia ambil sendiri dan diposting setelah diagnosanya dipublikasikan. “Ini virus demokratis. Tidak membedakan antara kaya dan miskin, kuat dan tidak kuat. Ini dapat menginfeksi siapa saja.” (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed