by

Bentrok Sekterian di India Makin Parah

DUALINK.id – Mohammad Zubair sedang berjalan pulang dari masjid di timur laut ibukota New Delhi ketika melihat ada kerumunan banyak orang. Dia berbalik arah lewat jalan bawah tanah untuk menghindari keributan. Ternyata, itu justru fatal.

Dalam hitungan detik, dia sudah meringkuk di tanah dikelilingi belasan pemuda yang memukulinya dengan batang kayu dan logam. Darah mengalir dari kepalanya, menyebar di pakaiannya. Pengeroyokan pada siang hari Senin (24/02) itu ditangkap kamera foto wartawan Reuters.

“Mereka melihat saya sendirian. Melihat topi saya, jenggot, pakaian shalwar kameez. Mereka melihat saya sebagai Muslim,” kata Zubair dengan kepala diperban di rumahnya, saat diwawancarai Reuters. “Mereka langsung menyerang dan meneriakkan slogan. Kemanusiaan macam apa ini?”

Saat bentrokan, Zubair sempat tidak sadar karena banyak luka. Namun, ia diseret ke tempat aman oleh sesama Muslim yang datang membantunya setelah melemparkan batu untuk membubarkan para penyerang. Pria berusia 37 tahun itu dilarikan ke rumah sakit. Malamnya, ia dipulangkan.

“Saya sempat berpikir saya tidak akan selamat,” kenangnya. “Kala itu, saya hanya mengingat Allah.”

Perdana Menteri Narendra Modi, pada Rabu (26/02), meminta masyarakat tenang. Pernyataan itu dilontarkan setelah setidaknya 20 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya cedera dalam beberapa kekerasan sektarian terburuk di New Delhi dalam beberapa dekade.

Di pinggiran ibukota India, bentrokan dengan kekerasan sering terjadi belakangan ini. Sekelompok pemrotes Muslim dan sekelompok Hindu kontra bisa bentrok berjam-jam melintasi penghalang beton dan logam yang membagi jalan utama. Ada sejumlah lemparan batu dan bom bensin.

Banyak massa meneriakkan slogan-slogan pro-Hindu. Lalu, tiba-tiba massa ini menyerang seorang tidak bersenjata karena ia Muslim. “Ini tanda ketegangan meningkat di antara kelompok dua agama dominan di India, dan mungkin sulit ditahan,” begitu ulasan Danish Siddiqui, wartawan Reuters.

Kerusuhan di berbagai penjuru India dimulai pada Desember 2019. Kala itu, disahkan undang-undang kewarganegaraan yang membuat non-Muslim dari beberapa negara tetangga memenuhi syarat untuk cepat diproses jadi warga negara India.

Baca juga:
RSUM dan 12 Bangunan Lain Diresmikan

Ini langkah yang oleh banyak Muslim dinilai diskriminatif. Kaum minoritas agama yang teraniaya, antara lain dari komunitas Hindu, Sikh, atau Kristen, berhak mendapatkan kewarganegaraan India. Tetapi, yang Islam tidak bisa mendapatkan keuntungan yang sama.

Bharatiya Janata Party (BJP), partai nasionalis Hindu pendukung PM Narendra Modi, menyebut undang-undang kewarganegaraan baru itu diperlukan untuk melindungi kaum minoritas yang teraniaya dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan.

Juru bicara BJP, Tajinder Pal Singh Bagga, mengatakan partainya tidak mendukung segala bentuk kekerasan, termasuk serangan terhadap Zubair. Dia justru menyalahkan partai-partai saingan memicu kekacauan selama kunjungan Presiden AS Donald Trump untuk merusak citra India.

“Ini 100 persen tidak direncanakan,” katanya, saat wartawan Reuters menyanyainya tentang sejumlah kekerasan sekterian. “Partai kami atau kebijakan partai tidak ada hubungannya dengan kekacauan.”

Soal kerusuhan, Bagga mengatakan pemerintah federal yang mengontrol polisi di Delhi bakal mengerahkan pasukan paramiliter untuk mengendalikan situasi. “Saya percaya, dalam 24 jam semuanya akan baik-baik saja,” tambahnya.

Sejak kembali ke tampuk kekuasaan pada Mei 2019, PM Modi menggarap agenda utama Hindu sehingga menguatkan dukungan terhadapnya. Memang, kaum Hindu menyumbang sekitar 80 persen dari populasi India. Namun, keberpihakan ini membuat 180 juta Muslim India terguncang.

Sekarang, para penentang dan pendukung undang-undang kewarganegaraan Desember 2019 itu terpecah antara Muslim dan Hindu. Mereka berhadapan satu sama lain. Polarisasi ini membangkitkan kembali kegelapan politik masa lalu India.

“Kekerasan yang terjadi di pinggiran Delhi ini mengingatkan awal kerusuhan anti-Sikh pada 1984,” kata Yogendra Yadav, ilmuwan politik yang memimpin partai politik kecil menentang BJP.

Dia merujuk pada serangan massa terhadap minoritas Sikh setelah ada orang Sikh yang membunuh PM Indira Gandhi. Sebagai balasan, ribuan orang Sikh tewas di berbagai penjuru India termasuk di ibukota New Delhi.

Undang-undang kewarganegaraan kontroversial itu salah satu dari beberapa langkah yang diambil pemerintah Modi sejak terpilih lewat pemilu ulang pada Mei 2019. Pada Agustus 2019, pemeritnahan PM Modi melepas status khusus Kashmir (satu-satunya negara bagian di India dengan mayoritas Muslim). Pada November 2019, Mahkamah Agung memberi wewenang kelompok Hindu menguasai situs yang diperebutkan di kota Ayodhya. Keputusan ini membuka jalan bagi berdirinya kuil di situs tempat masjid kuno pernah berdiri. Semua ini memang janji pemilu yang dibuat BJP.

Baca juga:
Co-Founder Riliv Beri Motivasi Calon Maba UNAIR

Sebelumnya, saat Modi menjadi Menteri Utama di negara bagian Gujarat, beberapa kerusuhan terjadi pada 2002. Bahkan, itu termasuk kerusuhan terburuk sejak India merdeka dari Inggris. Serangkaian kerusuhan itu memicu ketidakpercayaan di kalangan kaum Muslim terhadap Modi.

Dalam kerusuhan 2002, sekitar 2.500 orang tewas dan sebagian besar kaum Muslim. Itu terjadi setelah 59 peziarah Hindu di Ayodhya tewas karena kereta api yang mereka tumpangi terbakar. Dalam penyelidikan polisi, Modi dibebaskan dari kesalahan. Namun, puluhan orang dari pihak Musim dan Hindu mendapatkan hukuman.

Sebelum bentrokan pekan ini di New Delhi, sudah 25 orang tewas dalam bentrokan lain antara pemrotes dan polisi di seluruh negeri. Jumlah korban tewas sekarang dua kali lipat setelah terjadi dua hari pembakaran, penjarahan, pemukulan dan penembakan di bagian timur laut New Delhi.

Kepolisian Delhi, dalam pernyataan Selasa (25/02), menyatakan sudah melakukan segala upaya untuk menahan bentrokan dan mendesak semua pihak menjaga perdamaian. Pasukan kepolisian dan paramiliter berpatroli di jalan-jalan dalam jumlah jauh lebih besar.

Namun, beberapa dari mereka juga jadi korban. Menurut petugas medis di Rumah Sakit Guru Teg Bahadur, ada polisi yang luka memar dan tang terluka tembak. Reuters tidak dapat bukti siapa yang menembaki mereka.

Yatinder Vikal, polisi Hindu berusia 33 tahun, dirawat karena luka tembak di lutut kanannya. Saat itu ia sedang mengendarai skuter.

Saksi-saksi di rumah sakit setempat mengungkapkan, korban yang terluka dalam bentrokan itu dari kalangan Hindu dan Muslim. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed