by

Umar Khayyam Mengoreksi Sang Bapak Geometri

-Islam-56 views

DUALINK.id – Ghiyāth ad-Dīn Abu’l-Fatḥ Umar ibn Ibrāhīm al-Khayyām Nīshāpūrī adalah filsuf, polymath, ahli matematika, astronom dan penyair dari abad 11. Ia juga menulis risalah tentang mekanika, geografi, mineralogi, musik, hingga teologi Islam. Risalah paling penting tentang aljabar (Treatise on Demonstration of Problems of Algebra) meliputi metode geometrik untuk menjabarkan ‘persamaan kubik’ dengan cara memotongkan hiperbola dengan lingkaran. Metode ini dipakai hingga sekarang.

Tulisan-tulisan Umar Khayyam diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Sejumlah cendekiawan Barat memberi acungan jempol atas kecerdasannya. Thomas Hyde (1636–1703) menjadi cendekiawan Barat yang mempelajari pemikirannya. Sampai-sampai, Edward FitzGerald (1809–83) mempopulerkan karya Umar Khayyám ke seluruh dunia lewat terjemahan dan adaptasi tentang karyanya. Terbitlah seri Rubaiyat of Omar Khayyam.

Dalam risalah Treatise on Demonstration of Problems of Algebra, Umar Khayyam menulis tentang susunan segitiga dari koefisien binomial yang saat ini dikenal sebagai ‘segitiga Pascal’. Argumen yang mendukung klaim bahwa ia punya teorema binomial umum adalah didasarkan pada kemampuannya menggali kalkulasi akar bilangan.

Dalam risalah Sharh ma ashkala min musadarat kitab Uqlidis (diterjemahkan di dunia sebagai On the Difficulties of Euclid’s Definitions), salah satu yang terpenting adalah postulat paralel Euclid. Kala itu, Euclid (dari Aleksandria era 300 SM) masih dianggap bapak geometri. Sejumlah ilmuwan lain, termasuk Al-Haytham, pernah mencoba mengkritik postulat Euclid. Namun, penjelasan Umar Khayyám tampak lebih maju. Atas dasar kritiknya, Eropa terbelalak sehingga terbuka jalan bagi berkembangnya apa yang saat ini dikenal sebagai ‘geometri non-Euclid.’

Risalah dari Umar Khayyám dapat dipandang sebagai perlakukan pertama terhadap aksioma paralel yang tidak berdasarkan petitio principii tapi lebih berdasarkan pada postulat intuitif. Umar Khayyám menyangkal upaya sebelumnya yang dilakukan matematikawan Yunani dan Persia lainnya untuk membuktikan proposisi itu. Seperti Aristoteles, ia juga menolak penggunaan gerak dalam geometri. Ia malah membuat upaya pertama merumuskan postulat non-Euclid sebagai alternatif bagi postulat paralel.

Baca juga:
Raihlah Bonus Mutiara Ruhani

Selain itu, Umar Khayyam dikenal sebagai filsuf dan penyair yang spiritual-pragmatis. Puisi-puisinya banyak dipandang sebagai komentar filosofis terhadap kondisi manusia. Bukan hanya kondisi di Persia zaman itu, tapi juga kondisi global. Dengan wacana filosofis dan wacana puitis, ia menyentuh masing-masing dimensi eksistensi manusia. Lewat filsafat, ia membela rasionalisme melawan munculnya ortodoksi. Lewat puisi, ia merepresentasikan suara protes melawan apa yang ia anggap sebagai ‘dunia yang secara fundamental tidak adil.’

Umar Khayyam lahir 18 Mei 1048 dari keluarga pembuat tenda di Nishapur (saat ini berada di sisi timur laut Iran). Masa kecilnya ia habiskan di kota Balkh (saat ini di Afghanistan utara) belajar di bawah bimbingan Sheik Muhammad Mansuri. Kemudian, ia belajar pada Imam Mowaffaq Nishapuri yang dipandang salah satu guru terhebat di kawasan Khorassan. Saat remaja, ia pindah ke Samarkand untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut. Setelah itu, ia pindah ke Bukhara dan memantapkan diri sebagai pakar matematika dan astronomi di periode abad pertengahan. Kemudian, selama beberapa dekade, ia mengajar filosofi Ibnu Sina terutama di tanah lahirnya di Nishapur. Sampai menjelang akhir hayat, ia tetap mengajar.

Selama hidup, Umar Khayyám dikenal tidak mengenal kata lelah. Siang hari, ia mengajar terutama aljabar dan geometri. Sore, ia datang ke istana Seljuk sebagai penasihat Sultan Malik-Shah I. Malam, ia mempelajari astronomi dan menuntaskan sejumlah aspek penting dalam kalendar Jalali. Namun, setelah Sultan Malik-Shah I wafat, janda Sultan memecat Umar Khayyam sebagai penasihat. Tak patah arang, Umar Khayyam berangkat haji ke Mekkah. Sepulang haji, ia dibolehkan kembali ke Nishapur dan bekerja sebagai astronom kesultanan. Di situ, ia memperbaiki karya-karyanya dan terus mengajar matematika, astronomi, dan bahkan ilmu pengobatan.

Baca juga:
Hidayah Allah

Umar Khayyam tidak percaya pada ramalan. Namun, konon, ia pernah berkata pada salah seorang muridnya, “Pusaraku akan berada di tempat di mana angin utara menebarkan bunga-bunga mawar di atasnya.” Ali ibn Zaidu’l-Baihaqi, yang menulis tentang biografinya, mengungkapkan kala itu Umar Khayyam sedang membaca Book of Healing karya Ibnu Sina. Akhirnya, Umar Khayyam wafat pada 4 Desember 1131 di Nishapur.

Saat ini, di Nishapur ada pusara sekaligus musoleum untuk Umar Khayyam. Musoleum yang selesai dibangun pada 1963 ini sekarang dianggap sebagai salah satu masterpiece arsitektur Iran. Monumen itu terletak di dalam kompleks taman yang sejuk dengan angin dari utara. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed