by

Ibn al-Nafis Penemu Sirkulasi Darah ke Paru

-Islam-41 views

DUALINK.id – Dalam sejarah fisiologi, sering kali ada ruang yang ‘hilang’. Ada waktu sangat panjang antara era Galen di Yunani-Romawi pada abad ke-2 hingga zaman Pencerahan di Eropa pada abad ke-16. Nah, salah satu penyambungnya adalah Ibn al-Nafis.

Ala-al-din abu Al-Hassan Ali ibn Abi-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi, alias Ibn al-Nafis, berada di antara bentang sejarah panjang antara mahzab Galen (130–199) hingga era ilmuwan semacam Michael Servetus (1511–1553), Realdus Columbus (1516–1559), Andreas Vesalius (1514–1564), dan William Harvey (1578–1657).

Ajaran Gallen sangat berpengaruh hingga 1400 tahun. Sampai-sampai, saat William Harvey mengajar di Cambridge University pada akhir 1500-an, sebagian dari instruksinya masih menggunakan ajaran Galen. Bahkan, beberapa ajaran Galen, misalnya tentang keluarnya darah, masih digunakan ilmuwan lain pada abad ke-18.

Namun, seiring meningkatnya sains di era Renaissance di Eropa pada abad ke-15 dan ke-16, ajaran Galen banyak dipertanyakan. Namun, sebelum Servetus, Colombus, Valverde, Vesalius, hingga Harvey mempertanyakan, para ilmuwan dari dunia Islam sudah menemukan jawaban lebih tepat. Salah satunya adalah Al-Nafis yang hidup 1213–1288.

Galen mengajarkan bahwa darah mencapai sisi kanan jantung melalui pori-pori tak terlihat dalam selaput, lalu menuju sisi kiri jantung. Di situ, darah bercampur dengan udara untuk menciptakan energi hidup. Dari situ, darah dan zat hidup dipompa dan diedarkan ke seluruh tubuh. Menurut Galen, sistem pembuluh darah vena cukup terpisah dengan sistem pembuluh darah arteri, kecuali saat mereka kontak melalui pori-pori yang tak terlihat itu.

Namun, berdasarkan pengetahuan anatomi, Al-Nafis berani menyatakan, “Darah dari bilik kanan jantung tentu harus sampai ke bilik kiri tetapi tidak ada jalur langsung di antara mereka. Septum tebal pada jantung itu tidak berlubang dan tidak memiliki pori-pori terlihat seperti yang dipikirkan beberapa ahli atau pori-pori tak terlihat seperti yang difikirkan Galen. Darah dari bilik kanan harus mengalir melalui pembuluh nadi arteriosa (yakni arteri pulmonalis) ke paru-paru, menyebar melalui substansinya, bercampur dengan udara di paru, melewati pembuluh balik arteria (yakni pembuluh balik paru) mencapai serambi kiri jantung dan di sana membentuk energi hidup yang penting.”

Baca juga:
Al-Zarqālī, Si Tukang Logam Inspirator Astronomi

Ia juga menyatakan, “Jantung hanya memiliki dua bilik. Di antara keduanya sama sekali tidak ada lobang atau bukaan. Selaput di antara dua rongga ini jauh lebih tebal daripada di tempat lain. Manfaat dari darah ini (yang ada di bilik kanan) adalah naik ke paru-paru, bercampur dengan apa yang ada di paru-paru yakni udara, kemudian melewati pembuluh balik ke ruang kiri dua rongga kiri jantung.”

Dalam mengambarkan anatomi paru, Al-Nafis menyatakan, “Paru itu terdiri dari bagian-bagian; Pertama adalah bronkus; kedua, cabang-cabang pembuluh dari nadi; ketiga, cabang-cabang pembuluh darah balik; semuanya dihubungkan oleh daging berpori yang longgar.”

Pada 1924, Al-Deen Altawi dokter asal Mesir menemukan catatan komentar berjudul Sharh Tashrih al-Qanun Ibn Sina, di Prussian State Library di Berlin saat ia mempelajari sejarah Kedokteran Arab di Fakultas Kedokteran Albert Ludwig’s University di Jerman. Catatan ini mengungkap detail topik-topik anatomi, patologi dan fisiologi karya Al-Nafis. Di catatan ini lah terdapat deskripsi paling awal tentang sirkulasi darah ke paru.

Ibn al-Nafis lahir 1213 di Damaskus yang saat ini menjadi ibukota Suriah. Ia belajar kedokteran di rumah sakit Bimaristan Al-Noori di Damaskus. Pada 1236, ia pindah ke Mesir dan bekerja di Rumah Sakit Al-Nassri. Kemudian, ia bekerja di Rumah Sakit Al-Mansouri, dan kemudian menjadi kepala dokter dan penasihat pribadi Sultan Mesir.

Selain ilmu kedokteran, Ibn al-Nafis juga belajar jurisprudensi, sastera dan teologi. Dalam bidang ilmu hukum, ia menjadi salah satu pakar mahzab Shafi’i. Sebagai sasterawan, ia menulis banyak karya antara lain novel fiksi ilmiah berjudul Al-Risalah al-Kamiliyyah fil Siera al-Nabawiyyah yang di dunia Barat dialih-judulkan menjadi Theologus Autodidactus. Ia juga menulis tentang optalmologi. Buku terkenalnya berjudul Mujaz al-Qanun (ringkasan semua hukum). Namun, karya terbesarnya adalah Al-Shamil fi al-Tibb, yang direncanakan menjadi ensikllopedia 300 volume tapi tidak rampung karena ia wafat. Manuskrip tak lengkap dari ensiklopedia ini sekarang bisa didapatkan di Damaskus.

Baca juga:
Ibn al-Haytham, Si Gila Pionir Metode Ilmiah

Saat wafat pada 1288, Al-Nafis menyumbangkan seluruh rumahnya, perpustakaannya dan kliniknya untuk Rumah Sakit Mansuriya. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed