by

Cari Pemimpin? Tanya Tuhan Dong!

-Opini-219 views

Oleh: Moh. Husen*

DUALINK.id – Suatu malam, saya kebetulan disuruh membersamai diskusi para mahasiswa aktivis kampus dengan tema Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial. Kalimat pertama spontan saya setelah ber-assalamu alaikum adalah: “Jika mahasiswa tidak suka membaca, dia akan terancam menjadi manusia yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.”

Yang saya sampaikan ke mereka adalah membaca. Tidak saya tambahi membaca buku agar loading dalam pemikiran mereka bahwa yang dimaksud membaca tidaklah melulu membaca buku. Meskipun wajar bahwa jika disebut membaca, asumsi umumnya adalah membaca buku. Dan sangat tidak salah jika membaca buku merupakan hal yang penting dan primer dalam pengembangan intelektual para calon sarjana itu.

Sampai di sini  mohon jangan bertanya kepada saya: “Sebenarnya penting mana membaca buku atau membaca lingkungan dan kehidupan? Apa yang patut dibanggakan dari seorang pembaca ribuan buku, tapi tak bisa membaca kehidupan? Membaca buku itu sebuah kebodohan atau kepintaran tatkala membaca kemiskinan saja masih buta? Belum lagi membaca omongan orang kok semua omongan dianggap mesti benar? Membaca buku itu sebuah kemajuan atau ketertinggalan sih?!”

Tanyakanlah hal itu entah kepada siapa gitu. Pokoknya jangan ke saya. Alasannya sederhana, sekarang hari Minggu. Waktunya libur. Ngapain harus menjawab soal, kayak anak sekolah saja. Dianggap bodoh dan dungu pun nggak masalah, daripada saya harus kehilangan waktu rileks saya di hari Minggu ini. Pokoknya ini hari libur, tanggal merah, dan saya mau rileks.

“Bagaimana kalau jadinya malah ada yang bertanya kepada orang yang salah?” mungkin ada yang bertanya seperti itu.

Jika memang ada yang bertanya seperti itu, tetap saya akan mengelak: “Ya nggak apa-apa. Itu namanya penemuan kebenaran yang tertunda saja. Tanya langsung kepada Tuhan juga nggak apa-apa. Pasti dijawab oleh Tuhan dengan caraNya sendiri, entah tiba-tiba kita bertemu siapa atau menemukan apa, atau bagaimana. Cara Tuhan tak terbatas dan tak bisa dibatasi kayak cara manusia. Pokoknya sekarang saya ingin santai. Saya nggak mau jawab apa-apa. Sekarang hari libur. Mohon maaf jika jawaban saya ngawur. Saya sedang tak sudi diganggu.”

Baca juga:
Menanam Harapan di Pilkada Banyuwangi

Kalau dengan begitu, umpamanya, saya makin ditanya: “Apakah untuk mencari pemimpin yang tepat dalam Pilkada serentak tahun 2020 ini bisa juga bertanya kepada Tuhan?”

Akan saya teriaki: “Saya tidak tahu. Saya malas menjawab. Sekarang hari Minggu. Saya mau liburan ke rumah saja karena cuaca mendung. Saya sendiri ini bingung kok, apa hubungannya diskusi mahasiswa di paragraf awal tadi dengan paragraf terakhir ini…”

(Banyuwangi, 1 Maret 2020)

*Penulis buku ‘Tuhan Maha Pemaaf dan Maha Tidak Tega.’ Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed