by

Abbas Ibn Firnas Sang Pelopor Penerbangan

-Islam-35 views

DUALINK.id – Pernah nonton film aksyen yang mengandung adegan BASE Jumping? Base jumping itu aktivitas saat seseorang terjun bebas dari tempat tinggi, melayang seperti walet dengan memanfaatkan bentangan kain lebar yang dikenakan, lalu mendarat dengan aman menggunakan parasut. Adegan semacam itu muncul antara lain dalam film xXx (2002), Lara Croft Tomb Raider, serial James Bond dalam Die Another Day, The Living Daylights, hingga The Spy Who Loved Me, atau Batman Begins.

Adegan itu memang mengagumkan untuk ditonton namun cukup mendebarkan untuk dilakoni sendiri. Dalam film-film di atas, tidak ada bintang yang melakukan Base Jumping sendiri. Peran mereka dalam adegan itu selalu digantikan jumper profesional. Tak pelak, aksi dan gambar mereka tampak sangat bagus dipandang mata.

Tapi, tahukah Anda, siapa orang pertama yang melompat dan melayang seperti walet itu? Dalam mitologi Yunani, ada bapak-anak bernama Daedalus dan Ikarus yang berniat meloloskan diri dari labirin Pulau Kreta yang dikelilingi laut. Mereka membuat sayap dari bulu burung yang direkatkan dengan lilin. Daedalus berhasil terbang menuju Yunani, tapi Ikarus terbang terlalu tinggi sehingga lilinnya meleleh kena panasnya sinar matahari. Setelah bulu-bulunya rontok, ia terjatuh di Laut Aegea dan tewas.

Namun, manusia yang dicatat sejarah keilmuan sebagai ‘penerbang’ pertama adalah Abbas Abu Al-Qasim Ibn Firnas Ibn Wirdas al-Takurini. Philip Khuri Hitti, profesor Sastera Semit dan ketua Departemen Bahasa Oriental di Princeton University, Amerika Serikat, menegaskan lewat bukunya History of the Arabs, “Abbas Ibn Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang membuat upaya ilmiah untuk terbang.”

Sebagai keturunan Arab Berber, Abbas Ibn Firnas lahir pada 810 di Izn-Rand Onda, Al-Andalus (saat ini bernama Ronda di Spanyol). Sezaman dengan dibangunnya Candi Borobudur di Jawa, Abbas Ibn Firnas kala itu hidup di zaman Emirat Kordoba. Setelah menjalani kehidupan sebagai ilmuwan dan sasterawan, ia wafat di Kordoba dalam usia 77 tahun.

Baca juga:
Tiada Perbuatan Tanpa Balasan

Pada masa jayanya, Abbas dikenal sebagai polymath (pakar dalam banyak hal). Ia belajar ilmu kimia, fisika, astronomi dan kedokteran. Ia dikenal sebagai penyair bahasa Arab, musisi Andalusia, dokter, penemu beberapa alat baru, perekayasa teknik, hingga penerbang. Karyanya di bidang ilmu pengetahuan antara lain desain jam air Al-Maqata, membuat gelas bening dari pasir, menemukan metronom, membuat lensa korektif (‘batu baca’), membuat rancangan rantai cincin untuk mendisplai gerakan planet dan bintang, serta menetapkan tabel astronomi.

Meski karya ilmiahnya banyak sekali, yang paling menjadi perhatian adalah upayanya untuk terbang. Upaya nyata menggunakan sayap untuk terbang ini dicatat sejarawan Ahmed Mohammed al-Maqqari pada abad ke-17. Sumbernya dari catatan abad ke-9 oleh Mu’min ibn Said, penyair Emirat Kórdoba era Muhammad I. Ide dan karyanya membuat kakak-adik Orville Wright dan Wilbur Wright bisa membuat pesawat terbang bertenaga mesin. Alat transportasi udara ini sekarang menjadi salah satu pendorong globalisasi.

Pada tahun 822, kalifah baru bernama Abd al-Rahman II memanggil sejumlah individu berbakat untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ia pertama-tama memanggil musisi asal Irak bernama Ziryab yang juga pakar pengembangan ilmu. Ia lalu memanggil astronom dan penyair remaja bernama Abbas Ibn Firnas. Para ilmuwan ini diminta mengembangkan sesuatu yang baru.

Pada 852, Abbas menantang maut dengan terjun bebas dari menara di Masjid Agung Kórdoba. Ia menggunakan pakaian seperti sayap sehingga ia hanya cedera ringan saat jatuh. Alat ini bisa disebut sebagai parasut pertama di dunia, dan cara terjunnya sekarang disebut sebagai Base Jumping. Aksi itu memicu Abbas untuk meneliti kelebihan dan kelemahan alat terbangnya. Ia lalu mengembangkan alat baru, yang didemonstrasikan di sebuah bukit pada tahun 875 di depan para undangan.

Baca juga:
Raihlah Bonus Mutiara Ruhani

“Di antara sejumlah eksperimen paling jeli yang ia buat, yang paling masyhur adalah upayanya untuk bisa terbang. Dalam eksperimen terakhir, ia membungkus diri dengan bulu burung untuk bisa terbang. Ia memasang dua sayap di tubuhnya, lalu terjun bebas untuk mendapat pijakan terbang. Menurut kesaksian beberapa penulis yang menyaksikan pertunjukan itu, ia terbang dalam jarak cukup jauh. Ia seolah-olah telah menjadi burung besar. Ia terbang lebih cepat daripada burung phoenix meski ia membubuhi tubuhnya dengan bulu elang. Namun, permasalahan justru terjadi saat mendarat. Ia ingin hinggap di tempat ia memulai terbang. Burung, ketika terbang turun hendak mendarat, menggunakan ekor untuk mengendalikan lajunya. Rupanya Abbas lupa melengkapi diri dengan ekor untuk mendarat,” begitu yang dilaporkan Ahmed Mohammed al-Maqqari, dan dikutip Lynn Townsend White, Jr. pada 1961.

Patung Abbas di Bandara Baghdad.

Kegagalan mendarat dengan baik itu membuat tulang punggung dan leher Abbas patah. Sepuluh tahun kemudian, ia meninggal dalam usia 77 tahun. Upayanya untuk terbang turut hilang ditelan sejarah. Lalu, 200 tahun kemudian, ide itu dibangkitkan kembali oleh seorang biarawan. Beberapa ahli, termasuk Leonardo da Vinci, melanjutkan eksperimen untuk terbang. Antara tahun 1000 hingga 1010, Eilmer of Malmesbury di Inggris mencoba terbang mekanik dengan glider. Hingga akhirnya Wright bersaudara bisa menerbangkan manusia dengan pesawat bermesin pada 1902.

Abbas Ibn Firnas menjadi mutiara dari dunia Islam yang sinarnya menerangi dunia saat ini. Ada berbagai cara untuk memberi penghormatan pada dia. Salah satu celah di bulan diberi nama Ibn Firnas. Ada patung bersayap di jalan menuju Baghdad International Airport di Irak. Bandara di utara kota Baghdad juga diberi nama Ibn Firnas. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed