by

Ya Rasulullah, Saya Ingin Jadi Orang Alim

-Hikmah-68 views


DUALINK.ID: Orang arab desa, bertanya kepada Rasulullah SAW,” Aku mau menjadi orang alim. Bagaimana caranya.”?

Nabi SAW menjawab : Takutlah kepada Allah, maka engkau akan jadi orang  alim.

Allah menegaskan, “Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah adalah mereka yang alim.” Yaitu, mereka yang berilmu, dengan ilmunya menjadi takut kepada Allah.

Bukan sebaliknya, setelah berilmu justru semakin “berani” kepada Allah. Yaitu semakin jauh dari Allah, melanggar hukum-hukum Allah, dan menyepelekan perintah-Nya.

Dalam surat Fathir ayat 28 ditegaskan, “Innama yahsyallaha min ‘ibadihil ulama’ ”. Artinya, “Sesungguhnya hanya hamba yang takut kepada Allah adalah para alim (ulama)”.

Dari ayat ini jelas bahwa kalau ingin menjadi orang alim harus takut kepada Allah.

Nabi SAW pernah ditanya, “Apa taqwa itu?” Beliau menjawab, “Taqwa adalah takut kepada Allah dan takut berbuat maksiat.”

Jadi, orang alim dan orang bertaqwa itu syaratnya punya rasa takut kepada Allah dan takut berbuat maksiat.

Orang alim mengetahui tentang fenomena alam semesta dengan segala isinya.

Alam bagi orang alim merupakan “tanda” ke-Mahakuasaan Allah. Di manapun dia berada, hatinya selalu ingat dan takut kepada Allah.

Semua benda (makhluk) yang dilihatnya mengingatkan dia kepada Allah. Orang alim saat melihat badan yang sempurna itu, hatinya ingat Allah. Tubuh yang merupakan ciptaan Allah begitu sempurna apalagi yang menciptakannya, jelas Maha Sempurna.

Orang alim, selalu berpikir dan berdzikir tentang Allah. Itulah yang disebut ulul albab. Yaitu, orang yang selalu ingat Allah disaat berdiri, saat duduk dan saat berbaring

Dari hasil perenungannya itu muncul kesadaran mendalam bahwa indahnya alam semesta ini berupa penegasan bahwa Allah menciptakan sesuatu tanpa cacat (sia-sia), “Rabbanaa makhalaqta hadza batilan” (Ya Allah tidaklah Engkau ciptakan sesuatu dengan sia-sia). Bisikan hati orang alim dalam jiwanya selalu begitu.

Baca juga:
Tiada Perbuatan Tanpa Balasan

Orang yang memiliki kesadaran seperti ini, akan selalu berhati-hati dan terukur sehingga hidupnya selamat. Itulah sukses dunia-akhirat.

*****
Al kisah, ada anak muda yang di hatinya selalu bersemayam rasa takut kepada Allah SWT. Suatu ketika dia akan mencuri di rumah saudagar kaya.

Tetapi karena pemuda tadi bertaqwa kepada Allah, niat mencuri berubah. Saya tidak akan mencuri tetapi akan mengambil hak fakir miskin dari harta orang kaya ini, gumamnya.

Ia hitung nilai emas di gudang, termasuk nilai barang –barang yang lain. Dari hasil kalkulasi tersebut akan diketahui berapa besar zakat yang harus dikeluarkan yang ketentuannya yang 2,5% .

Tetapi saking banyaknya kekayaan yang dihitung, tidak terasa waktu telah masuk dini hari dan beberapa saat kemudian terdengar adzan Subuh.

Tentu saja, pemilik rumah terbangun hendak melaksanakan shalat Subuh.Alangkah kagetnya ketika dia melihat anak muda yang tengah asyik menghitung barang di gudang miliknya.
Siapa kamu anak muda?, tanyanya.
Saya pencuri, jawabnya.

Tentu pemilik rumahnya heran, kalau dia memang pencuri, melihat pemilik rumah kok tidak lari. Dia terus asyik menghitung barang miliknya.
Untuk apa kamu di sini?, tanyanya lagi.
Saya tengah menghitung jumlah kekayaan tuan, agar diketahui berapa zakatnya yang 2,5%, jawabnya enteng.
Untuk apa?

Akan saya ambil. Kan saya ini orang msikin, maka 2,5% dari kekayaan tuan menjadi hak saya dan hak orang miskin yang lain …

Aneh….kata pemilik gudang. Jawaban itu menggugah perasaan pemilik gudang karena terpukau oleh eloknya mental pemuda itu.

Dia mengambilnya sebagai calon menantu. Tuan rumahnya tahu bahwa di hati anak muda itu ada rasa takut kepada Allah sehingga tidak langsung main curi saja melainkan menghitung haknya sebagai orang miskin sebanyak 2,5% kemudian akan diambilnya. Tapi masih “akan” belum diambil betulan.

Baca juga:
Lelaki Patah Hati

Andai para pejabat di negeri ini mengikuti jejak anak muda yang di hatinya ada rasa takut kepada Allah, tidak mungkin korupsi merajalela. Tetapi karena rasa takut kepada Allah jauh dari hati mereka maka KPK sibuk mengatasi persoalan korupsi yang tidak pernah henti.

Sudah waktunya orang alim diberi kesempatan mengatur negeri ini agar bangsa kita selamat dari kehancuran yang menurut istilah Prof. Dr. Syafii Maarif nyaris sempurna.(Suharyo AP)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed