by

Badai Virus Corona

DuaLink: -Akhirnya datang juga itu badai virus corona (covid-19). Setelah sebulan lebih, sejak muncul di China, dia akhirnya berada di sekitar kita. Sebelumnya dia kayak enggan mampir di negeri yang tenteram, eh yang subur. Negeri nan makmur, semakmur makmurnya bagi yang sudah makmur.

Sebelum makluk berbentuk mahkota matahari/corona (dari penglihatan di mikroskop khusus) itu masuk Indonesia, banyak analisis lokal bermunculan. Dari yang berdasar ilmiah kedokteran/kesehatan hingga yang berbau klenik.

Ada sebuah tulisan yang menyimpulkan, orang Indonesia kebal terhadapnya. Sakti. Gaya hidup orang Indonesia yang kemproh menjadikan dirinya tak tedas ditembus virus anyaran tersebut. Virus corona tidak menimbulkan efek sakit karena tubuh terbiasa terkontaminasi virus/bakteri melalui makanan/minuman kotor.  Sedangkan yang lain mengatakan dengan sunggguh-sungguh, virus tidak tahan terhadap suhu udara Indonesia, yang cederung hangat ke panas. Ada pula yang menganggap kemunculan corona sebagai kutukan Nyi  Blorong terhadap China yang coba-coba merebut laut Natuna.

Tentu saja, analisis “ahli” seperti itu dipertanyakan oleh ahli beneran di luar negeri. Di dalam negeri sih banyak yang percaya, lha wong pada saat itu corona belum dikabarkan menginfeksi WNI.  Hal yang membawa kabar baik biasanya lebih mudah dipercaya, bukan? Namun, orang LN mah mengerti perasaan orang Indonesia dalam menghadapi pandemi tersebut. Dengan mengatakan, “Bukankah suhu udara di Indonesia sama panasnya dengan negara tetangga? Malaysia dan Singapura, misalnya.”

Mereka tidak menertawakan argumen soal suhu udara. Hanya mengajak berpikir jernih. Dua negara tetangga itu jauh lebih dulu mengakui, di negerinya telah ada kasus positif infeksi corona.

Sedangkan masalah analisis kebiasaan hidup kemproh yang menjadikan orang Indonesia kebal terhadap corona, orang LN tidak menanggapinya. Barangkali hal itu dianggap lelucon. Anekdot digital: fakta yang dirangkai sedemikian rupa, sehingga menyerupai sebuah kebenaran karena memenuhi harapan bawah sadar warga internet. Mana mungkin hidup kemproh alias jorok (makan dan minum kurang higiene) membuat tubuh kebal terhadap virus. Kepercayaan ilmiah kedokteran yang telah dianut secara turun temurun menasbihkan, hidup kemproh justru menyebabkan penyakit secara langsung maupun jangka panjang.  Soal klenik, mereka tidak menanggapi. Mungkin lantaran tidak mengenal Nyi Blorong. Mereka hanya mengenal Putri Duyung. He, he, he.

Setelah ditemukan dua orang positif terinfeksi corona, tentu saja teori/analisis seperti itu tidak berlaku lagi. Baik bagi warga internet maupun warga negara Indonesia kasunyatan. Sebagaimana virus lain, suhu udara (baik cenderung dingin atau panas) tidak banyak berpengaruh terhadap daya idap si virus. Hingga saat ini, badai corona telah menghantam 67 negara. Baik yang memiliki iklim berudara dingin maupun cenderung panas.

Baca juga:
Terapi Bermain Bisa Turunkan Stres Anak Korban Perceraian

Melihat kenyataan ini: ada 2 orang terinfeksi corona, apa yang mesti WNI lakukan? Menjaga diri merupakan langkah utama dan pertama. Selain memperkuat daya tahan tubuh (imunitas), lebih baik untuk sementara tidak mendatangi lokasi tempat pengidap pernah singgah. Harap jangan nyinyir ya, jika ada pejabat yang mengingatkan hal itu. Para ahli menduga, tempat/barang yang pernah bersentuhan dengan pengidap masih berpotensi sebagai media penular.

Meningatkan daya tahan tubuh, maksudnya tidak lain adalah memperbaiki gizi. Hal itu dapat dilakukan dengan mengonsumsi segala makanan/minuman berkategori sehat. Dari tempe-tahu hingga daging-telor. Juga menambah asupan buah dan sayur bervitamin A, C, dan E sebagai pembentuk antioksidan.  Seorang ahli dari Unair Surabaya menganjurkan memperbanyak konsumsi makanan yang kaya akan kandungan curcuma, sepert jahe, temulawak, sereh, dan kunyit.

Menjaga imunitas tubuh tetap optimal kiranya sangat penting dan menentukan dalam hal menghindarkan diri dari sakit akibat infeksi virus corona. Dalam hal ini, cukup cerdas jika seseorang lebih memilih berburu minuman/makanan suplemen dibandingkan berburu masker. Imunitas akan membinasakan virus yang nylonong  dalam tubuh. Sedangkan masker belum tentu dapat menyaring virus masuk ke tubuh melalui tarikan nafas. Meskipun pemakaian masker juga penting untuk mengurangi risiko penularan.

Lalu, bagaimana dengan sikap kita? Tidak perlu panik. Biasa saja tapi waspada. Corona, seperti flu, juga gampang menular. Ada pendapat, kepanikan dapat memicu stres. Sedangkan stres itu sendiri bisa menurunkan kekebalan tubuh, sehingga daya tahan tubuh terhadap corona juga melemah.  Sebaiknya tidak meniru warga Negara China, memborong makanan di supermarket hanya karena khawatir terjadi krisis makanan akibat penyebaran corona. Percayalah, makanan tetap akan melimpah di negeri ini. Kita tak akan kelaparan. Lebih-lebih bagi penggemar singkong, ubi jalar, mbote, ganyong, talas, atau gembili, yang tumbuh subur di banyak lahan penduduk.

Boleh jadi masalah akan muncul ketika seseorang terjangkit virus corona. Bagi yang berduit dan makmur, masalah biaya perawatan tidak menjadi persoalan. Namun, bagaimana dengan warga kurang mampu? Lebih-lebih jika ada persoalan dalam kepesertaannya dalam BPJS.

Baca juga:
Kontes Durian Unggulan Wonosalam di DeDurian Park

Biaya perawatannya sangat mahal. Konon, untuk tes deteksi keberadaan virus corona dalam tubuh saja membutuhkan dana sekitar Rp 1 miliar sekali tes. Harga reagensia sangat mahal. Bisa dimaklumi jika pemerintah tidak sembarangan melakukan tes pada seseorang yang diindikasi terinfeksi (suspect), termasuk pada 238 WNI yang diisolasi/diobservasi di Natuna sepulang dari Wuhan, China. Sebuah langkah penghematan yang efektif, meskipun berisiko tinggi.

Dengan biaya semahal itu, bisa jadi pemerintah memiliki banyak pertimbangan dalam melakukan pendeteksian. Walau pun demikian, pemerintah berjanji menanggung biaya perawatan bila si pasien bukan peserta BPJS. Sekadar informasi, BPJS menjamin pasien virus corona sepanjang belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

KLB adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa penyebaran penyakit  dan dapat berkembang menjadi wabah. Banyak orang belum paham dengan istilah KLB dan wabah. Istilah wabah digunakan untuk kondisi yang lebih parah dan luas. Istilah KLB dapat dikatakan sebagai peringatan sebelum terjadinya wabah.

Status KLB diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004, sebagaimana dikutip wikipedia. KLB sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan KLB. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur-unsur sebagai berikut: timbul suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal; peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama tiga kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu); peningkatan kejadian penyakit/kematian dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun); dan jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

Melihat kriteria KLB seperti itu, rasanya status KLB virus corona masih jauh. Untuk itu, jangan khawatir soal biaya. Semua ditanggung BPJS. Tapi tetap saja: jangan undang corona masuk ke tubuh Anda. Nyawa taruhannya. (Priyoko)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed