by

Thabit Ibn Qurra Si Penghitung

-Islam-129 views

DUALINK.id – “Sama seperti Tubuh ragawi tidak dapat hidup tanpa Jiwa ruhani, maka Pengetahuan pun jadi tak berakar jika tidak ada Astrologi; dan Sains tentang Imagi adalah Astrologi yang paling tinggi dan paling berharga,” begitu ide yang tertuang dalam kitab kuno De Imaginibus.

Menara Suq al Ghazel di Baghdad tempat Thābit pernah tinggal dan belajar.

Al-Ṣābiʾ Thābit ibn Qurra al-Ḥarrānī biasa disebut Thebit/Thebith/Tebit dalam bahasa Latin. Ia lahir tahun 826 di kota Harran di Mesopotamia/Assyria (yang saat ini jadi Turki). Namun, ia menjadi ilmuwan besar setelah diundang pindah ke Baghdad oleh Muhammad bin Musa bin Shakir sang matematikawan dari lingkaran ilmuwan Banu Musa.

Saat masih di kota asal, Thābit sudah dikenal dengan banyak karya meliputi berbagai bidang dan topik. Ia juga fasih berbahasa Syria, Arab, dan Yunani. Ketrampilan berbahasa ini lah yang membuatnya ditarik ke Bayt al Hikam di Baghdad. Kala itu, para cendekiawan dari dunia Islam sedang melakukan gerakan penerjemahan sains dari karya-karya kuno.

Thābit menerjemahkan karya seni dan sains kuno antara lain, Almagest dari Ptolemius, Elements dari Euclid, pengukuran lingkaran matematik dari Archimedes. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan. Di Baghdad, ia juga mengembangkan sendiri matematika, astronomi, mekanika, kedokteran, etika hingga filsafat. Ia juga memberi komentar tentang karya filsuf kuno Aristoteles, Ptolemeus dan Euclid. Dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, ia juga diundang untuk menjadi penasihat bagi khalifah era Abbasiyah.

Seperti dengan para ilmuwan pada zamannya, Thābit tidak melihat kontradiksi saat mempelajari sains eksoteris sekaligus menerapkan sains ghaib. Misalnya, ia memandang Kosmos itu sebagai suatu kesatuan besar antara yang makro dan yang mikro. Maka, ia juga mengembangkan astrologi yang menghubungkan kekuatan ghaib dengan kehidupan sehari-hari.

Karya terkenal Thābit  terkait kebathinan antara lain yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai ‘De Imaginibus’. Teks kunci keajaiban astrologis ini menjadi sumber bagi Picatrix dan banyak dikaji pada Abad Pertengahan serta Renaissance oleh pakar kebathinan antara lain Albertus Magnus, Marsilio Ficino dan Cornelius Agrippa.

Baca juga:
Cegah dan Putus Penyebaran Virus Corona by TV Tausiyah
Buku kuno De Imaginibus

De Imaginibus’ disebut-sebut mencerminkan bentuk keajaiban astrologis paling canggih; tidak hanya berdasarkan pada perhitungan posisi planet-planet di angkasa luar, tapi juga menggunakan astrologi tradisional Sabian yang canggih.

Di sisi yang lebih material, Thābit  juga memberi dasar bagi teori astronomi abad pertengahan tentang gerak-geser equinox (saat matahari berposisi di atas khatulistiwa bumi). Thābit  bisa menentukan lamanya tahun (periode orbit bumi mengelilingi matahari) yakni 365 hari, 6 tahun, 9 menit dan 12 detik (dengen selisih hanya 2 detik dari perhitungan moderen).

Dalam bidang mekanika dan fisika, ia menjadi penemu konsep statika. Ia mengamati kondisi-kondisi bagi keberimbangan tubuh, balok, dan tuas, serta energi yang mempengaruhi gerakannya. Ia menolak konsep Aristoteles tentang esensi ‘ketidak-bergerakan’ atau ‘tempat alami’ bagi setiap unsur. Ia justru mengajukan teori bahwa‘gerak’ yakni naik atau turun itu dipengaruhi berat materi. Penolakannya ini membuka pintu bagi penggunaan ‘gerak’ dalam matematika. Ia juga membahas masalah-masalah Archimedes tentang statika dan mekanika.

Dalam bidang matematika, Thābit menemukan persamaan untuk menentukan amicable numbers (bilangan-bilangan bersahabat). Konsep ini konon punya nilai ghaib tertentu, namun sering menjadi tantangan bagi kaum rasionalis. Definisi kasarnya adalah dua bilangan berbeda yang begitu berhubungan erat sehingga penjumlahan dari semua bilagan pembagi untuk salah satu angka adalah sama dengan penjumlahan dari pembagi untuk angka lainnya.

Contohnya; bilangan bersahabat terkecil 220 dan 284. Pembagi habis dari bilangan 220 adalah 1, 2, 4, 5, 10, 11, 20, 22, 44, 55 dan 110, yang kalau dijumlah menghasilkan 284. Pembagi habis dari bilangan 284 adalah 1, 2, 4, 71 dan 142, yang kalau dijumlahkan menghasilkan 220. Nah, berdasarkan persamaan semacam itu, bisa dicari bilangan bersahabat berikutnya. Awalnya diketahui bilangan bersahabat 1184 dan 1210, 2620 dan 2924, 5020 dan 5564, 6232 dan 6368, 10.744 dan 10.856, 12.285 dan 14.595, hingga tak terbatas. Pada tahun 1946, hanya ditemukan 390 pasangan bilangan bersahabat. Lalu, dengan kecanggihan komputer, pada 2007 sudah ditemukan 12.000.000 pasangan bilangan bersahabat.

Baca juga:
Nuruddin Al-Bitruji Mengungkap Tenaga Gerak Jagad Raya

Thābit juga menulis teori angka untuk menggambarkan rasio di antara kuantitas geometris –langkah yang tidak pernah diambil para matematikawan Yunani kuno. Ia berhasil mengubah jalan bagi matematika. Bahkan, berdasarkan teori angka itu, ia berhasil menghitung solusi bagi permainan catur. Ia juga menjelaskan teorema Pythagoras untuk menghitung segitiga.

Thābit wafat di Baghdad pada 18 Februari 901, pada zaman keemasan sains Islam. Kala ajal menjemput, ia masih sibuk bersama cucunya Ibrahim ibn Sinan mempelajari kurva yang dibutuhkan untuk membuat jam bayangan matahari. Karyanya ini menjadi simbol dan inspirasi begitu banyak ilmuwan berikutnya.

Sayangnya, dari begitu banyak karya tulis, karya asli Thābit sudah banyak yang hilang. Untungnya, sebagian karya Thābit telah dikutip atau diterjemahkan oleh para ahli pada zaman berikut. Pada abad pertengahan, beberapa bukunya dalam bahasa Arab dan Syiria diterjemalhan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard dari Cremona. Kemudian, sejumlah karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan dipubliskasikan. Permainan angkanya terus menjadi tantangan hingga zaman sekarang. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed