by

Tiga Perilaku yang Dicintai Allah

-Hikmah, Islam-167 views

Ilustrasi : Masjid

dualink.id : Setiap muslim tentu ingin dicintai Allah. Karena itu, ia harus memiliki perilaku yang dicintai-Nya.

Adapun perilaku yang dicintai Allah antara lain berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain. “(yaitu) orang-orang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q. S. Ali Imran: 134).

Penjelasan ketiga perilaku tersebut sebagai berikut:

 

Pertama: Menafkahkan harta di waktu lapang maupun sempit

Berinfaq bukan hanya di waktu lapang saja. Di saat sempit pun dianjurkan tetap berinfaq. Dengan demikian amal tersebut menjadi langgeng karena dilakukan terus-menerus.

Beramal seperti itulah yang dicintai oleh Allah. “Amal yang disukai Allah ialah yang langgeng meskipun sedikit.” (H.R. al-Bukhari).

Beramal Rp5.000,00 di saat dompet berisi Rp10.000,00 lebih besar nilainya daripada berinfaq Rp5.000,00 di waktu dompet berisi Rp100.000,00. Karena itu, berinfaq di waktu sempit bisa jadi lebih besar pahalanya daripada beramal di saat lapang.

 

Kedua: Menahan amarah

Tidak semua orang dapat menahan amarahnya. Apalagi di saat dirinya dihina oleh orang lain. Dengan kata lain, masih ada orang yang mampu melakukannya. Salah satu di antaranya ialah Ali bin Abi Thalib.

Dalam Perang Khandaq, sebagai partai pembuka, Amr bin And. Wad al-Amiri menantang umat Islam duel satu lawan satu.

Rasulullah SAW menawarkan kepada pasukannya untuk menjawab tantangan Amr.

Akan tetapi, tiba-tiba suasana menjadi hening. Tidak satu pun sahabat yang berani dan bersedia maju menjawab tantangan jagoan Quraisy itu.

Dalam keheningan itu, majulah Ali bin Abi Thalib menyatakan sanggup bertarung melawan Amr.

Baca juga:
Problematika Keluarga by TV TAUSIYAH

Begitu melihat Ali yang maju ke gelanggang, meledaklah tawa Amr mengejek Ali yang dianggapnya anak kemarin sore. Jagoan Quraisy itu yakin akan menyudahi pertarungan dengan sangat mudah.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Dengan lincah Ali mematahkan setiap serangan Amr. Akhirnya Ali berhasil menebas paha kekar Amr dan tumbanglah pria sangar itu.

Dalam kondisi tidak berdaya, tiba-tiba Amr meludahi Ali. Menanggapi hinaan tersebut, sepupu Rasulullah itu malah menyingkir dan mengurungkan niat membunuh hingga beberapa saat.

“Saat ia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata-semata karena Allah,” kata Ali menjawab kegelisahan sebagian sahabat atas sikapnya.

 

Ketiga: Memaafkan kesalahan orang lain

Memaafkan menimbulkan dua perilaku yaitu meminta dan memberi maaf.

Kata maaf berasal dari kata afwun yang berarti menghapus. Memaafkan berarti menghapus luka di hati, menghilangkan rasa dendam, dan melupakan kesalahan orang yang telah menyakitinya. Jadi, seseorang belum dikatakan memaafkan kalau rasa dendam masih terpendam dalam hatinya.

Perilaku tersebut telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf a. s. Dengan ikhlas ia memaafkan saudara-saudaranya yang pernah menganiaya dan menceburkannya ke dalam sumur.

Perlakuan tidak baik dari saudara-saudaranya justru dibalas oleh Nabi Yusuf dengan kebaikan. Ia mengajak ayah dan

saudara-saudaranya untuk tinggal bersama di ibukota Mesir. Mereka pun hidup rukun dan bahagia.

Itulah tiga perilaku yang dicintai Allah. (1) Berinfaq di waktu sempit yang sulit dilakukan bagi orang yang belum memiliki kesadaran, (2) Lebih sulit dari itu ialah menahan amarah, (3) Yang sangat sulit ialah memaafkan kesalahan orang lain.

(Mulyo)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed