by

Berdialog dengan Allah di Tengah Sawah

-Hikmah-349 views

 

 

 

 

 

 

Ilustrasi Anak anak berzikir mengingat Allah

DUALINK.ID: Suatu siang. Di tengah rawa, dekat laut selatan. Ada pencari ikan yang asyik bekerja.

Hasil tangkapannya cukup banyak. Nanti akan saya jual, untuk nafkah keluarga di rumah, bisiknya.

Di sela-sela keasyikannya menangkap ikan, tiba-tiba sayup-sayup terdengar kumandang adzan dari masjid yang cukup jauh.

Terjadi “perang” batin: dilanjutkan nangkap ikan, atau shalat dulu.

Bisikan malaikatlah yang menang. Lelaki setengah tua itu, meninggalkan rawa, naik ke pematang sawah, mencari air bersih: berwudlu.

Kalau saya terus menangkap ikan, kuatir nanti waktu dhuhur lewat, bisik hatinya. Soal rezeki sudah ada yang mengatur.

Allah Maha Mengerti keinginan hambaNya. Dan, dia pun segera menggelar “sajadah” yang tak lain adalah handuk kecil, untuk “alas” dahi ketika sujud.

Kaos dalamnya dilepas lalu diikatkan ke kepalanya sebagai songkok. Dia tidak memakai baju, cukup sarung ditinggikan atau ditarik ke atas agar menutup dadanya.

Meski dalam keadaan sangat sederhana dia “hanyut” dalam kekhyusukan hati dengan suara agak keras dia bertakbir, “Allahu akbar….”

Alam ikut berzikir, suara air bak musik syahdu yang menambah ketenangan jiwa. Tiupan angin kencang menhapus sengatan terik sinar matahari di siang bolong.

Mendung yang berarak –arak di atas dirinya memayunginya. Pematang sawah menjadi “musholla”. Lisannya berdialog dengan Sang Pemberi rezeki.

Sederhana namun khusyuk. Pencari ikan ini tidak pernah membaca buku karya T.A. Lathief Rousydiy berjudul “Ruh Shalat dan Hikmahnya”.

Dalam buku ini diungkapkan bahwa sebab-sebab timbulnya khusyuk hati antara lain, pemusatan pemikiran, tafahum (paham apa yang dibaca), ta’zhim (membesarkan Tuhan).

Ada rasa haibah (takut dan kadum akan kebesaran Tuhan), raja’ (mendambakan harapan), haya’ (malu), ikhlasul ‘amal lillah dan iman serta yakin.

Baca juga:
Mukmin yang Benar by TV Tausiyah

Pencari ikan tadi mampu merasakan hadirnya hati menuju Allah…

Dia bisa merasakan semua rasa. Ada kelezatan hati bertemu dengan Allah di hamparan “musholla alam” di atas “sajadah” sederhana, dan disertai hembusan angin sepoi yang mampu mengusir sengatan panas mata hari.

Dia merasa kecil dibanding alam dan apalagi dibanding Penciptanya. Jauh dari rasa sombong dan tinggi hati.

Dengan kondisi batin yang demikian, dia selalu ingat (zikir) kepada Allah sehingga menjadi pribadi istimewa dan dapat mengistimewakan Allah dalam hidupnya.

Usai shalat dia melanjutkan pekerjaannya menangkap ikan kembali dengan tenang…. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed