by

Gadget, Ada Apa Denganmu?

-Opini-113 views

Oleh: M. Yazid Mar’i

DUALINK.id – Teknologi memang bagai pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sesuatu yang positif, namun juga tidak bisa dimungkiri juga mendatangkan ekses negatif. Semua tergantung bagaimana seseorang menyikapinya.

Gadget, misalnya. Barang yang satu ini menawarkan sekian banyak aplikasi yang mampu memudahkan seseorang mengakses segala kebutuhan. Mulai dari informasi pendidikan dan ilmu pengetahuan, hiburan, permainan, jual beli, kriminalisasi, hingga pemenuhan syahwat biologis. Penggunaannya tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak hingga balita. Praktisnya, ini cocok untuk semua umur.

Untuk orang dewasa, tentu eksesnya tidak begitu parah. Sepanjang yang bersangkutan mampu memilih dan memilah informasi yang ada serta mampu mengatur waktu yang tepat untuk menggunakannya.

Namun, bagi anak-anak yang secara psikologis belum memiliki kemampuan menganalisa, membedakan, memilih dan memilah, ini bisa berbahaya. Tentu pera orang tua sangat dibutuhkan dalam pendampingan ketika anak menggunakan gadget ini. Mengapa? Agar fungsinya tetap pada tempatnya atau sesuai dengan tingkat usia penggunanya.

Ada beberapa kasus yang terjadi belakangan ini terkait penyalahgunaan gadget pada anak-anak. Ini berujung pada terjadinya kekerasan anak pada dirinya sendiri dan kekerasan anak pada anak lain. Tentu, kondisi ini kian membuat miris hati orang tua.

Contohnya, kasus pembunuhan anak terhadap anak di Jakarta. Juga kasus pelecehan seksual, hingga pergaulan bebas anak yang membuat masa depan korban jadi buram. Juga kasus terjadinya depresi di sebagian anak akibat main games.

Fenomena yang terjadi pada anak-anak ini tentu tidak boleh dianggap enteng. Bagaimanapun, anak-anak adalah sosok yang akan meneruskan perjuangan orang tua. Anak-anak adalah bagian dari regenerasi bagi berlangsungnya peradaban adiluhung setelah kita.

Baca juga:
Ainur Rofiq Sophiaan: Kongres V PAN, Pilih Anak atau Besan?

Bila dilihat dari perspektif tanggungjawab, anak adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada orang tua yakni ayah atau ibu, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.

Melihat multi-kompleksnya persoalan anak di era digital, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, orang tua dituntut memiliki kecerdasan kompleks juga. Orang tua harus ‘pinter, bener, dan kober’ agar mampu mendidik anak sesuai zamannya. Orang tua harus ‘mencintai tanpa menciderai, apalagi  mematikan, potensi’ yang dimiliki anak.

Maka, pemahaman agama kepada anak haruslah ditanamkan sejak dini melalui keteladanan dan dengan kesantunan. Ini adalah sikap dan prilaku yang perlu dikembangkan setiap orang tua dengan ikhlas tanpa paksaan.

Jika hari ini kita bisa lakukan, mengapa harus menunggu besuk atau nanti?

 

Penulis adalah penggiat Pendidikan di Bojonegoro

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed