by

Lelaki Patah Hati

-Hikmah-94 views

Oleh: Moh. Husen*

DUALINK.id – Saya menyebutnya sebagai lelaki yang patah hati. Saya tidak tahu apakah patah hati bisa disembuhkan seperti halnya patah tulang. Yang jelas saya bukan juru sembuh patah hati, apalagi patah tulang. Lelaki yang saya kisahkan ini sudah tidak mau percaya lagi dengan kejujuran. Ia patah sepatah-patahnya dengan kejujuran. Ia lebih memilih kebohongan dan menutup diri bergaul dengan kejujuran.

Kejujuran bagi dia sudah tak ada. Bertemu dengan siapapun dia selalu berbohong. Karena, menurut dia, setiap kali dia jujur kepada siapapun, yang selalu ia dapatkan adalah sikap tak dihargai serta tak pernah dimengerti. Dia berharap orang menghargai kejujurannya, tapi kenyataan yang ia alami adalah penghinaan demi penghinaan.

Termasuk untuk sekedar berteman ngopi dengan saya yang tak punya prestise apa-apa ini, dia juga takut jujur. Dia harus bercerita bahwa dia akrab dengan tokoh ini, punya kontak dan sering ditelfon duluan oleh tokoh itu, supaya saya tak merendahkan dia. Kalau pakai bahasa meme di medsos: jadi sedih gue mendengarnya.

Dia sudah percaya seratus persen bahwa bergaul dengan semua orang harus berbohong. Dia tak percaya lagi kepada kejujuran. Hidupnya sekarang menggunakan baju penipuan seratus persen. Semua orang dianggap penipu, maka dia pun harus jadi penipu. Karena mangsa penipu adalah orang yang jujur, maka dia tak mau jadi orang jujur yang dimangsa semua orang yang penipu.

Teman saya suatu hari berkata: “Dia itu secara ekonomi sudah tak ada masalah. Dia sakit tapi tak merasa sakit. Keinginannya selalu gagal sehingga dia mudah sakit hati dan patah hati. Padahal keinginannya memang selalu kurang tepat, kurang layak pasar, sehingga tak pernah laku. Dia kaya tapi berlaku seperti orang miskin yang jika tak dikasihani dia jadi sakit hati, marah dan patah hati. Dia selalu mengarang bahwa hidupnya susah. Begitulah orang sakit yang tak merasa sakit. Meskipun kita tak boleh menutup diri bahwa lingkungan yang biadab, yang menghormati orang hanya berdasarkan uang dan uang saja, akan melahirkan lelaki patah hati seperti itu.”

Baca juga:
Ingin Jadi Orang Kaya?

Si teman melanjutkan: “Untungnya dia bukan calon pemimpin apa saja, apalagi calon pemimpin dalam Pilkada 2020. Tak mungkin dia melamar dan dilamar koalisi parpol, atau menggalang 90ribuan KTP untuk dukungan calon perseorangan. Bisa dibayangkan nasib masyarakat dalam sebuah daerah yang dipimpin oleh pemimpin patah hati yang tak percaya sedikitpun dengan kejujuran. Semoga lelaki patah hati itu disembuhkan Allah, dan kita semua dijauhkan dari pemimpin yang patah hati terhadap kejujuran.”

Saya pun meng-amini.

 

Banyuwangi, 10 Maret 2020

Penulis buku Tuhan Maha Pemaaf dan Maha Tidak Tega. Tinggal di Rogojampi-Banyuwangi.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed