by

Nuruddin Al-Bitruji Mengungkap Tenaga Gerak Jagad Raya

-Islam-66 views

DUALINK.id – Tak banyak catatan tentang pribadi Nuruddin al-Bitruji (Nur al-Din Ibn Ishaq ibn Ibrāhīm ibn Yūsuf Al-Bitruji alias Alpetragius). Namun, ilmuwan muslim ini menjadi yang pertama melontarkan gagasan sistem astronomi non-Ptolomeus dan tenaga gerak di jagad raya.

Disebut-sebut, ia lahir di Maroko sisi utara benua Afrika. Lalu, ia bermigrasi ke Andalusia (jazirah Spanyol saat diperintah Muslim) dan menetap di kota Isbiliah (sekarang bernama Sevilla). Namanya mencuat di tanah Andalusia 1185–1192 lalu wafat sekitar 1204.

Di Andalusia, ia disebut-sebut menjadi salah satu murid Ibn Tufail (Abubacer) dan mendalami pemikiran-pemikiran kontemporer Averroes. Namun, ia tidak banyak bersentuhan langsung dengan karya-karya astronomi Ptolomeus dalam buku Almagest.

Pada abad ke-12, model geometris dari Ptolomeus tentang jagad raya dan isinya mulai dipertanyakan sejumlah filsuf. Model geometris Ptolomeus dalam kitab Almagest tidak cocok dengan gambaran kosmos menurut fisika Aristoteles dan Neo-Plato.

Karya di Andalusia tentang model Almagest ini antara lain dua buku karya Qāsim ibn Muṭarrif al‐Qaṭṭān (abad 10) yang masih mengikuti garis Hipotesis Planetarium dari Ptolemeus dan penulis dari Toledo abad 11 yang mengkritisi Almagest dari sudut pandang fisika. Pada abad 12, beberapa filsuf antara lain Ibn Bājja, Ibn Ṭufail, Ibn Rushd, dan Maimonides mencoba memecahkan permasalahan fisika itu.

Akhirnya, al-Bitruji mengeluarkan Kitab al-Hay’ah (buku tentang teori astronomi/kosmologi). Lewat buku yang lahir sepeninggal Ibnu Tufail  itu, al-Bitruji menghadirkan model alternatif kosmologi. Al-Bitruji menyatakan Ptolemeus itu astronom matematik menciptakan model yang berhasil memprediksi posisi planet-planet tapi sama sekali tidak nyata. Itu yang membuat gerak fisik jagad raya tidak terjelaskan.

Al-Bitruji lalu menyajikan sistem astronomi non‐Ptolemeus pertama meski hasilnya masih kualitatif. Sistemnya, seperti Aristoteles, bersifat homosentris dengan tubuh-tubuh jagad raya selalu dalam jarak yang sama dari pusat Bumi. Yang menarik, al-Bitruji memanfaatkan eccentrics dan epicycles matematis yang ditempatkan di permukaan bidang yang sesuai dengan area kutub Bumi.

Baca juga:
Rufaida, Wanita Juru Rawat Perang Badar

Salah satu aspek paling orisinil dari sistem al-Bitruji adalah usulannya tentang penyebab fisik dari gerak hagad raya. Ia menggunakan ide impetus gerak di jagad untuk menghitung transmisi energi dari penggerak pertama yang ditempatkan di bidang ke-sembilan. Gerak dari bidang ke-sembilan, yang memutar seragam sekali dalam 24 jam, ditransmitsikan ke bidang lebih dalam –sehingga menjadi lebih lambat secara progresif saat mendekati Bumi. Kecepatan rotasi dari masing-masing bidang digunakan untuk menentukan urutan planet-planet.

Yang patut dicatat, al-Bitruji menerapkan dinamika sublunar dan jagad raya yang bertentangan dengan ide Aristoteles bahwa ada jenis dinamika tertentu untuk masing-masing jagad. Menurut al-Bitruji, daya yang dipakai penggerak pertama mencapai jagad sublunar bisa menyebabkan rotasi komet di atmosfir atasnya.

Menurut model geometris al-Bitruji, setiap planet bergerak dekat ekliptika tapi gerakannya diatur kutub dari masing-masing planet yang ditempatkan pada jarak 90° dari planet itu sendiri. Kutub ini berrotasi dengan tumpuan pusat yang lebih kecil.

Karya al-Bitruji ini cukup berpengaruh di jagad astronomi Eropa dan dunia. Ada risalah tentang gelombang laut (Escorial MS 1636, tahun 1192) berisi ide-ide yang tampaknya dipinjam dari karya al-Bitruji. Yang lebih jelas adalah Michael Scot membuat terjemahan Latin dari karya al-Bitruji di Toledo pada 1217. Kitab al-Hay’ah juga diterjemahkan kedalam bahasa Ibrani oleh Mosheh ben Tibbon pada 1259.

Model geomatris al-Bitruji ini berbasis pada teori. Meski sempat menjadi panutan pada abad 13 hingga 15, teorinya juga berkali-kali diuji oleh astronom moderen. Beberapa masih dipakai, beberapa lainnya gugur. Meski demikian, al-Bitruji tetap dipandang pelopor astronomi. Setidaknya, di Bulan ada celah Alpetragius untuk mengabadikan namanya.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed