by

Deteksi Dini Diabetes dengan Spektroskopi Laser

-Kesehatan-27 views

DUALINK.id – Gula darah memiliki peran penting sebagai sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah normal pada rentang 70-150 mg/dl (milligram per deciliter).  Jangan kelebihan atau kekurangan. Jika kekurangan, energi tidak didapatkan. Jika berlebihan, dapat menyebabkan diabetes.

Untuk memeriksa kadar gula dalam darah, sering dilakukan dengan cara invasive atau tes darah. Masalahnya, tidak semua orang berani dengan alat suntik maupun sejenisnya. Selain itu, tes dengan jarum akan bermasalah untuk pasien yang kadar gula darahnya tinggi karena bisa menyebabkan pendarahan.

Maka, Prof Dr Retna Apsari MSi., bersama tim yang terdiri dari Prof Dr Moh. Yasin, Riky Tri Yunardi  ST MT, serta Winarno SSi MT, mengembangkan alat ukur kadar glukosa urin non-invasive berbasis spektroskopi laser. Alat ini diberi nama Spektrolaser Glukosa Urin.

Alat deteksi dini kadar glukosa urin non-invasive berbasis laser infrared untuk deteksi Diabetes Mellitus ini mampu menentukan hasil pengukuran kadar glukosa urin secara kuantitatif, kualitatif, dan dapat menentukan hasil deteksi apakah seseorang menderita diabetes atau normal.

Prof Retna Apsari.

Prof. Retna menjelaskan, pemilihan laser sebagai basis penelitiannya karena memang bidang yang ditekuni adalah laser. Selain itu, karena keadaan non-invasive hanya bisa dikondisikan dengan sumber bassic foton atau cahaya. Khususnya laser yang mempunyai keunggulan monokromatis, sejajar, searah, sangat teliti dan untuk spektrum di sekitar cahaya tampak dan infra merah mempunyai sifat yang non invasive.

Penelitian yang telah berjalan satu tahun ini mula-mula dilakukan dengan penentuan absorbs (penyerapan) panjang gelombang urin. Hasil penelitian, panjang gelombang urin berada direntang 1064 nm (nanometer, Red). Laser yang digunakan adalah diode dengan panjang gelombang direntang 830 nm. Oleh karena itu, ditambahkan reagen tertentu agar panjang gelombangnya mencapai 1064 nm.

Baca juga:
Waspadai Corona, ITS Tunda Kegiatan ke Luar Negeri

“Jadi, yang cocok itu laser Nd YAG 1064. Tapi harganya mahal. Padahal, itu mau dipakai komersial. Maka, kami turunkan ke laser diode,” terangnya.

Pengujian dilakukan secara in vitro dan dilanjutkan in vivo tahun ini. Dalam uji in vitro atau uji lab, Prof. Retna menggunakan urin yang dicampur air dengan konsentrasi tertentu. Selain itu, menggunakan urin orang yang sedang berpuasa maupun tidak.

Setelah uji in vivo, dilanjutkan dengan uji klinis bersama dengan tim yang memiliki laboratorium. Alat diujikan langsung kepada pasien-pasien yang telah terindikasi diabetes. Rencananya, penggunaan alat ini menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI).

“Sudah dilakukan uji in vitro melalui urin. Awalnya, uji urin puasa atau tidak diberikan tambahan air untuk divariasikan konsentrasinya. Kemudian, kami lanjutkan uji urin pasien yang sudah terdiagnosis diabetes. Ini untuk uji coba lanjutan alat yang sudah didesain. Saya menggunakan pasien sebagai sampel dalam penelitian ini. Dari hasil kalibarasi alat dengan reagen dipstick, diperoleh akurasi alat yang didesain sebesar 90%,” jelasnya.

Kini, penelitian yang menghabiskan waktu sembilan bulan untuk membuat prototype tersebut telah memasuki proses pengajuan HAKI agar idenya aman dan dapat terlindungi secara hukum. Setelah proses optimasi final, akan dilanjutkan dengan pengajuan paten, sebelum alat diproduksi masal.

“Diharapkan alat ini akan dioptimasi di tahun ini, dan memenuhi persyaratan sebagai salah satu instrumen alternatif, sehingga akan dapat dihilirasi di masyarakat,” ujar Prof Retna yang menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Vokasi.

Hasil penelitian itu  sudah dipaparkan di kalangan peer group fotonika internasional pada International Laser Technology and Optics Symposium (ILATOS) yang dilaksanakan di Universiti Teknologi Malaysia pada September 2019. Dalam forum itu, Prof Retna sebagai keynote speaker.

Prof Retna berharap, ke depan alat ini dapat digunakan untuk alternatif bagi alat yang ada. Setidaknya, sebagai alat deteksi awal yang bersifat non-invasive. Serta, dapat bermanfaat terutama bagi daerah pedalaman atau daerah yang jauh dari jangkauan laboratorium maupun dokter. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed