by

Tri Maharani, Spesialis Gigitan Hewan Berbahaya

DUALINK.id – Ponsel Maha kembali berdering, entah sudah yang ke berapa kalinya. Rupanya, panggilan datang dari Dr dr April Poerwanto Basoeki SpAn, kolega yang berdinas di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Spesialis anestesi senior itu menghubunginya setelah mendapati seorang ibu hamil tengah dalam kondisi kritis akibat tergigit ular. Gigitan ular tersebut tak hanya menyebabkan pendarahan hebat pada sang ibu, tetapi juga merengut nyawa janin dalam kandungannya. Mendengar berita yang disampaikan dr. April, ia langsung bertolak menuju Surabaya guna membantu proses penanganan sekaligus memberikan training kepada tim dokter RSUD Dr. Soetomo.

“Kasusnya terjadi akhir bulan Januari lalu. Ketika itu, saya bersama tim dokter sampai meminta bantuan Anti-Snake Venom (ASV) ke Kementerian Kesehatan karena harganya cukup mahal. Syukurlah, pasien akhirnya dapat kami selamatkan,” cerita Dr dr Tri Maharani MSi SpEm, sang ahli racun hewan berbisa.

Pengalaman menangani gigitan ular pada pasien hamil hanyalah satu dari ratusan kasus yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan akan dihadapi Maha. Tetapi, aktivitas tersebut kini justru menjadi rutinitas. Tak jarang, dirinya harus bepergian ke berbagai kota untuk menolong pasien.

Di dunia, hanya ada 53 dokter dengan keahlian pada bidang emergency medicine, khususnya subspesialis toksinologi yang mampu menangani kasus bisa ular atau gigitan hewan berbahaya lainnya. Maha termasuk satu di antaranya. Wanita asal Kediri itu juga menjadi satu-satunya pakar dari Indonesia yang mendalami rumpun kesehatan tersebut.

Fakta itu ironis, mengingat Indonesia secara geografis merupakan kawasan yang menjadi habitat alami bagi ular. Hingga saat ini, terdapat sekitar 360 jenis ular, meliputi 77 ular berbisa yang tersebar di penjuru negeri, seperti Pulau Jawa dan Sumatera.

Menurut data yang dikumpulkan Maha sejak 2012, kasus gigitan ular di Indonesia mencapai 130 ribu per tahun. Lalu meningkat jadi 135 ribu orang pada 2016. Dari semua kasus, 728 orang merupakan korban gigitan ular berbisa. Jumlah korban meninggal 35 orang.

“Indonesia sebagai sarang ular justru hanya memiliki tiga jenis ASV untuk mengobati gigitan kobra Jawa (Spitting cobra), ular welang (Banded krait), serta ular tanah (Malayan pit viper). Berarti masih ada puluhan ular lain yang belum terkover. Oleh karena itu, perlu dilakukan riset yang bersifat genomic dan molekuler. Prosesnya tidak mudah,” terangnya.

Sepak terjang Maha dalam bidang penanganan gigitan hewan berbahaya bermula dari perjalanannya selama menempuh pendidikan tinggi. Usai menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya, ia melanjutkan pendidikan magister (S2) di Program Studi Imunologi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga, pada 2001.

Baca juga:
Masyarakat dan Wisatawan Tumplek Blek di Kenduri Durian

“Waktu itu peminatnya belum banyak karena terbilang baru berdiri. Dari tujuh mahasiswa di angkatan itu, hanya saya yang dokter puskesmas. Lainnya dosen atau dokter umum,” ujar perempuan yang sekarang memimpin Instalasi Gawat Darurat RS Daha Husada, Kediri.

Maha menuturkan, berkuliah di Prodi Imunologi membawanya bertemu Prof  Dr  Fedik Abdul Rantam  drh, serta Prof Dr Yoes Prijatna Dachlan dr MSc SpParK(K). Dari kedua guru besar itu, ia banyak memperoleh pengetahuan yang sampai saat ini bermanfaat dan mendukung karirnya sebagai dokter sekaligus toksinolog.

“Ada pengalaman yang berkesan. Ketika mahasiswa lain sudah punya judul tesis, saya belum. Lalu, saya ditanya Prof Fedik yang dulu menjadi pendiri sekaligus Kepala Prodi Imunologi. ‘Mau nggak meneruskan penelitian saya tentang virus borna pada penderita Manic Depressive Disorder (MDD)?’ Saya jawab, ‘Ya mau’,” ceritanya.

Dalam mengembangkan penelitian tersebut, Maha harus mencari serum darah dari 100 penderita MDD. Meski tidak mudah, dia akhirnya sukses merampungkan tesis beserta pendidikan S2 pada 2003. Melalui penelitian itu, ia juga berhasil menyajikan fakta mengenai gangguan jiwa yang disebabkan masalah imunologis, yakni virus borna.

Berbekal ijazah S2, Maha memutuskan mengambil pendidikan doktoral (S3) di Prodi Patologi Klinik Unair. Namun, rencana tersebut berubah setelah dirinya menjalani tes kejiwaan bersama psikolog dalam rangka memenuhi syarat pendaftaran studi S3.

“Jadi, saya sudah diterima di Patologi Klinik dan membayar uang kuliah. Tapi, psikolog malah bilang, ‘Yakin mau di sini? Bisa sih bisa, tetapi untuk hidup selanjutnya hanya bertahan setahun. Sebab, menurut hasil tes, dokter Maha ini suka berpetualang. Gak cocok kalau cuma ngurusin feses, darah, dan urin. Harus bertemu manusia’,” kenangnya.

Benar saja, pada tahun 2007, Maha memilih mengikuti nasihat dari sang psikolog. Ia banting setir menekuni program pelatihan khusus spesialis emergency di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Akibat perubahan sistem pendidikan yang sempat terjadi, dirinya juga berkesempatan mengambil pendidikan S3 pada Prodi Biomedic di tempat yang sama.

“Entah bagaimana, pada akhirnya saya mendaftar spesialis emergency. Padahal, bayarnya mahal, sekolahnya lama, dan saya tidak punya bayangan ini bidang seperti apa. Kalau patologi klinik kan spesialis yang jelas menyenangkan secara finansial. Beberapa tahun kemudian, saya baru sadar perkataan psikolog itu benar,” kata Maha tertawa.

Selama menempuh pendidikan S3, Maha pernah dikirim ke Universiteit of Leuven di Belgia pada 2011 untuk menjalani Sandwich like Program PhD Biomedic in Hypertension Department Gashuisberg Hospital. Sejak itu, dia semakin giat mengasah kemampuan dalam bidang penanganan gigitan ular melalui latar belakang pendidikan yang dimilikinya.

Baca juga:
Hadapi Virus, Ayo Tingkatkan Imunitas Tubuh

“Dulu, saya merasa pendidikan yang saya tekuni tidak jelas. Tetapi, belakangan saya menyadari, kalau ingin menangani gigitan ular dengan bagus, saya harus punya basic keilmuan imunologi dan emergency. Gigitan ular itu tergolong masalah gawat darurat. Selain itu, harus paham biomedik karena menyangkut pemberian ASV,” sebut Maha.

Atas dedikasinya di bidang penanganan gigitan berbahaya, ia kerap menyabet sejumlah penghargaan. Tidak hanya itu, sekarang Maha juga dipercaya sebagai salah satu advisor di World Health Organization (WHO) sekaligus kontributor buku panduan kasus gigitan ular.

Maha pun merasa senang karena dapat membantu proses penanganan para korban dan memberikan pelatihan kepada tim dokter maupun masyarakat di seluruh Indonesia. Dia mengaku, sempat beberapa kali menyisihkan gajinya untuk membeli persediaan ASV.

“Harga ASV tidak murah, bisa belasan atau puluhan juta. Kadang harus beli di luar negeri seperti Thailand atau Australia. Makanya, saya kesal kalau dihubungi orang asing yang minta ASV untuk kepentingan pribadi. Pihak yang boleh memperoleh ASV hanya dokter atau rumah sakit karena ada pertanggungjawaban medis,” tegas Maha.

Bagi Maha, musuh utama penanganan gigitan ular di Indonesia adalah mitos. Sebab, sebagian masyarakat lebih memercayai dukun atau hal mistis lainnya, ketimbang pergi menemui tenaga medis, saat terkena gigitan ular. Akibatnya, kondisi korban semakin parah, bahkan menjadi lebih buruk, karena ditangani dengan metode salah.

Jika tergigit ular, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Jangan menghisap darah korban, karena bisa ular tidak menyebar melalui pembuluh darah. Jangan mengikat, memijit, atau membuat korban merasa panik. Hal tersebut dilakukan demi menghindari kontraksi otot korban. Jika terjadi konstraksi, bisa ular akan dengan mudah menyebar ke seluruh tubuh sehingga kondisi korban semakin memburuk.

“Kalau salah penanganan, korban dapat diamputasi, bahkan meninggal dunia. Sebaiknya, segera bawa ke dokter sebelum terlambat. Sampai sekarang, belum ada obat yang mampu mencegah bisa ular selain ASV. Sebab, bisa ular itu kan mengandung protein, sehingga harus diikat juga dengan protein yang hanya terdapat pada ASV,” tambah Maha.

Melihat penanganan korban gigitan ular yang masih memprihatinkan, Maha menghimbau pemerintah untuk semakin gencar melakukan penelitian, membuat panduan penanganan, memberikan sosialisasi kepada seluruh tenaga medis, serta menyediakan kurikulum mengenai bidang tersebut, khususnya bagi kalangan akademisi kedokteran. (PIH UNAIR)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed