by

Al-Zarqālī, Si Tukang Logam Inspirator Astronomi

DUALINK.ID – Ilmuwan besar ini hidup di zaman kurang menguntungkan. Al-Zarqali, alias Arzachel atau Arsechieles, menciptakan terobosan keilmuan gemilang. Namun, hidupnya terganggu peperangan.

Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Yaḥyā al-Naqqāsh al-Zarqālī lahir 1029 di desa pinggiran kota Toledo, yang kala itu ibukota Taifa, sekarang bagian dari Spanyol. Kala itu, kaum muslim membawa Andalusia ke zaman keemasan di Eropa. Kedahsyatan ini ditegakkan oleh Al-Mansur alias Ibn abi Amir yang memerintah atas nama pangeran muda Hisham. Kemakmuran menghasilkan sejumlah ilmuwan cemerlang, antara lain Ibn Firnas (abad 9), Abu Hanifa al-Dinawari (abad 10), Al-Zahrawi (abad 10-11), hingga Al-Majriti (abad 11).

Al-Zarqali awalnya belajar menjadi pande besi. Ia mengembangkan diri menjadi pengrajin logam. Saking ahlinya, sampai-sampai ia mendapat julukan Al-Nekkach atau al-Naqqash yang berarti ‘si pengukir logam’. Ya, dari keahlian mengukir logam itu ia lalu membuat berbagai piranti apa saja. Maka, ia sering pergi ke Córdoba, pusat pemerintahan kaum muslim di Andalusia, untuk memenuhi pesanan para cendekiawan.

Awalnya, Al-Zarqali tidak bersekolah, tidak pernah mempelajari ilmu apa pun selain pande besi, bahkan tidak pernah menyentuh buku. Namun, intelektualitasnya terbaca oleh para cendekiawan di Cordoba. Para cencekiawan ini lalu memberinya tugas agar ia mau belajar. Mereka meminjamkan buku-buku bekas untuk dibaca dan dipelajari. Dari situ, bakat Al-Zarqali di bidang astronomi dan geometri tampak. Maka, setelah dua tahun belajar intensif, Al-Zarqali pada 1062 sudah masuk ke dalam jajaran para cendekiawan.

Salinan astrolabe karya al-Zarqālī yang dipamerkan di Calahorra Tower

Al-Zarqali masih tetap membuat peralatan logam untuk para cendekiawan lain yang memesan, namun ia juga mengembangkan sendiri peralatan yang ia butuhkan. Ia berhasil menemukan alat-alat baru yang pada akhirnya membuat para ilmuwan mengikuti cara ia menghitung benda-benda langit dan bumi.

Baca juga:
Terkait Corona, Lazismu Galakkan Penggalangan Dana

Pengalaman banyak dan pengetahuan mendalam bisa mengangkat dirinya menjadi astronom terkemuka abad 11. Karya-karyanya menginspirasi generasi berikut ilmuwan muslim di Andalusia. Antara lain; Ibn Bajjah (Avempace), Ibn Tufail (Abubacer), Ibn Rushd (Averroës), Ibn al-Kammad, Ibn al‐Haim al‐Ishbili dan Nur ad-Din al-Betrugi (Alpetragius).

Pada abad 12, Gerard dari Cremona menerjemahkan karya al-Zarqali’s ke dalam bahasa Latin. Karyanya juga dirujuk Ragio Montanous abad 15. Pada 1530, Jacob Ziegler cendekiawan Jerman menulis komentar tentang karyanya. Bahkan, pada 1530, Nicolaus Copernicus mengutip karya al-Zarqali dan Al-Battani.

Al-Zarqali mengoreksi data geografis dari Ptolemius, antara lain tentang panjangnya laut Mediterran dari 62 derajad ke nilai yang benar yakn 42 derajad. Ia juga yang pertama menunjukkan gerak puncak relatif matahari terhadap latar belakang konstan bintang-bintang. Ia mengukur tingkat gerak itu 12,9 detik per tahun, yang mendekati kalkulasi moderen saat ini 11,6 detik per tahun.

Karena ahli logam, ia juga membuat peralatan ilmiah. Ia membuat tablet al-Zarqālī (al-ṣafīḥā al-zarqāliyya), yang di Eropa dikenal sebagai Saphaea, untuk mengukur objek astronomi. Ia juga membuat ‘jam air’ yang menentukan jam siang atau malam berdasarkan kalender bulan. Ia juga membuat alat equatorium untuk menghitung posisi planet-planet dengan menggunakan diagram model Ptolemeus.

Hidup di zaman keemasan Islam di Andalusia membuat Al-Zarqali produktif berkarya. Selain piranti ilmiah dan beberapa teori, ada buku dan risalah besar yang ia hasilkan; Al Amal bi Assahifa Az-Zijia; Attadbir; Al Madkhal fi Ilm Annoujoum; Rissalat fi Tarikat Istikhdam as-Safiha al-Moushtarakah li Jamiâ al-ouroud; hingga Almanac Arzarchel.

Namun, zaman keemasan itu segera berubah jadi zaman kesengsaraan setelah wafatnya al-Mansur. Andalusia mengalami zaman pemimpin-pemimpin kecil di daerah-daerah yang saling sikut untuk berkuasa di pusat. Umat Islam jadi terpecah-belah. Lalu, kaum dari utara memanfaatkan kesempatan adu-domba dan invasi. Akhirnya, pada 1085 Toledo direbut Raja Castile Alfonso VI.

Baca juga:
Terapi Bermain Bisa Turunkan Stres Anak Korban Perceraian

Al-Zarqali dan pada koleganya, termasuk Al‐Waqqashi, harus melarikan diri meninggalkan Toledo. Tidak diketahui pasti apakah Al-Zarqali yang sudah sepuh itu lari ke Cordoba atau wafat di kamp pengungsi kaum Moor pada 1087. Ketika Andalusia direbut dan disatukan kembali lewat invasi Al-Murābiṭūn dari Maroko pada 1089, Al-Zarqali sudah tiada.

Para astronom modern kemudian mengabadikan jasa-jasa ilmiah Al-Zarqali lewat nama Arzachel Crater pada salah satu celah di bulan. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed