by

Ibn Rušhdi Peletak Dasar Filsafat Abad 13

-Islam-15 views

DUALINK.idDikenal di dunia Barat sebagai Averroës, praktisi mahdzab Maliki, pakar berbagai bidang ilmu, namanya diabadikan dalam asteroid dan genus tanaman.

Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rushdi lahir di Córdoba (sekarang bagian dari negara Spanyol) pada 14 April 1126. Leluhurnya muslim terkemuka penakluk sebagian jazirah Iberia di Eropa. Keluarganya disegani dan banyak berhubungan dengan pelayanan publik dan hukum. Kakeknya, Abu Al-Walid Muhammad, menjadi qadi kepala di Córdoba saat di bawah pemerintahan dinasti Al-Murābiṭūn. Ayahnya, Abu Al-Qasim Ahmad, menduduki possi yang sama sampai dinasti Al-Murābiṭūn digantikan oleh kekhalifahan al-Muwaḥḥidun pada 1146.

Pendidikan Abu al-Walid ibn Rushdi mengikuti jalur tradisional. Awalnya, ia belajar hadits, bahasa Arab, hukum Islam, dan keagamaan. Lalu, ia belajar filsafat, alam raya, psikologi, hingga metafisik dari Abû Bakr Muḥammad Ibn Yaḥyà ibn aṣ-Ṣâ’igh at-Tûjîbî Ibn Bâjja al-Tujibi alias Ibn Bajjah. Ia juga belajar ilmu kedokteran dari Abu Jafar ibn Harun dari Trujillo di Sevilla.

Ia memuai karir keilmuan dibimbing Abu Bakr Muhammad ibn Tufail sang pengarang Hayy ibn Yaqdhan. Adalah Ibn Tufail yang memperkenakan dia pada kehidupan istana dan pada dokter terkenal Abu Marwan Abd al-Malik ibn Abi al-Ala Zuhr alias Ibn Zuhr. Kelak, ia berguru sekaligus berkawan dengan Ibn Zuhr untuk mengembangkan Kitab al-Kulyat fi al-Tibb.

Kematangannya menghasilkan berbagai karya sehingga ia diakui dunia sebagai polymath (pakar di sejumlah besar keahlian atau keilmuan). Ia mewariskan tulisan tentang logika, filsafat Islam, filsafat gaya Aristoteles, teologi, the mazhab fiqh Maliki, psikologi, politik, teori musik klasik Andalusia, geografi, matematika, ilmu kedokteran, astronomi, fisika, hingga mekanika alam raya.

Atas jasanya, pemikiran-pemikiran Aristoteles digali dari puing-puing budaya Yunani kuno. Komentar-komentarnya tentang filsafat Aristotelian sangat terkenal dan berpengaruh di seantero Eropa yang umumnya Kristen. Sampai-sampai, terkait filsafat Arstoteles, ia pernah digambarkan sebagai ‘bapak pemikiran sekuler untuk Eropa Barat.’ Gerakan filsafati abad ke-13 yang didasarkan pada karyanya itu disebut Averroisme (dari namnya yang dipanggil Averroës, Averrhoës, Averroès, atau Aben Rois, atau Ibin-Ros-din, Filius Rosadis, Ibn-Rusid, Ben-Raxid, Ibn-Ruschod, Den-Resched, Aben-Rassad, Aben-Rasd, Aben-Rust, Avenrosdy Avenryz, Adveroys, Benroist, Avenroyth, hingga Averroysta).

Baca juga:
PDM Gresik Sukses Kembangkan Pengajian Ahad Pagi

Karya-karya tentang filsafat ini membuat ia menyusul Ibn Bajjah dan Ibn Tufail menjadi tiga serangkai ahli filsafat muslim dari Andalusia. Bedanya, saat Ibn Bajjah dan Ibn Tufail lebih ke filsafat mistis, ia lebih mengarah ke filsafat rasionalis. Sejak itu, ia menulis karya-karya filsafati selama 30 tahun berikut.

Tulisannya yang pertama tuntas tahun 1157 saat usianya 31 tahun. Setelah itu, karyanya berkembang luas lebih dari 20.000 halaman meliputi berbagai subjek. Yang terpenting adalah karya-karyanya di bidang filsafat Islami, kedokteran Islami, dan hukum Islam. Ia menulis sedikitnya 80 karya orisinal, antara lain 28 tentang filsafat, 20 tentang kedokteran, 8 tentang fiqh, 5 tentang teologi, dan 4 tentang tata bahasa Arab.

Ia memberi komentar banyak pada karya Aristoteles dan karya Plato (terutama tentang republik). Komentarnya itu lah yang menjadi kebangkitan kembali pemikiran Aristoteles pada abad 12 dan 13. Ia menuliskan komentar pendek tentang karya Aristoteles di bidang logika, fisika, dan psikologi. Ia memberi komentar panjang dan dalam hingga analisis baris-per-baris atas karya Aristoteles yakni Posterior Analytics, De Anima, Physics, De Caelo, dan Metaphysics. Bahkan, ia menulis Tahafut al-tahafut yang membela filsafat Aristotelian terhadap serangan karya al-Ghazali berjudul Tahafut al-falasifa.

Pada 1160, ia ditunjuk menjadi qadi di Sevilla. Dalam karirnya, ia juga bekerja untuk istana bertugas di Cordoba dan Maroko. Bahkan, ia sempat ditunjuk menjadi dokter istana di Maroko. Namun, dalam masa pemerintahan Abu Yusuf Yakub al-Mansur untuk kekhalifahan dinasti al-Muwaḥḥidun di Maroko, karir politiknya berakhir. Selain mendapat kritik keras dari para fuqaha tentang filsafat Aristoteles, ia juga tidak mendapat dukungan khalifah.

Ia sempat diasingkan, tulisan-tulisannya tidak boleh diedarkan. Bahkan, banyak bukunya yang diangkut sejumlah keledai untuk dibakar. Dua tahun kemudian, ia bebas. Namun, tahun berikutnya, 10 Desember 1198, ia meninggal dunia di Marrakesh ibukota Maroko. Ia dikebumikan di tanah kelahirannya Cordoba.

Baca juga:
Cegah dan Putus Penyebaran Virus Corona by TV Tausiyah

Meski banyak bukunya dibakar, pemikiran dan karyanya yang lain masih tersimpan di perpustakaan atau benak para ilmuwan pada zaman itu di Eropa. Meski sebagian idenya tidak bisa diterima khalifah di Maroko, banyak pemikirannya yang justru menjadi pencerah di Eropa Barat. Dunia mengenangnya dengan memberikan nama Averroes pada asteroid 8318 dan genus Averrhoa untuk tanaman jenis belimbing. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed