by

Raih Kebahagiaan dengan Kesetiaan dan Kesabaran

-Hikmah-125 views

Ilustrasi : Keluarga Bahagia

 

dualink.id : Memang benar anjuran Ustadz Suharyo yang taushiyahnya selalu menyentuh hati. Membahagiakan istri itu tidak harus dengan materi melimpah yang bisa jadi diperolehnya dengan cara tidak terpuji.

Seorang suami bisa menggunakan hadiah ringan untuk menyenangkan hati sang istri. Terbukti ada seorang istri yang merasa senang hatinya hanya karena menerima hadiah berupa sebungkus cenil dari sang suami.

Menyenangkan hati istri juga bisa dengan kata-kata berisi pujian. Misalnya, “Kebaya dan kerudung yang kamu pakai menambah kecantikanmu, Dik.”

Bisa juga dengan cara berbohong. Misalnya, ketika itu istri berdiri di depan cermin sambil berkata, “Kata tetangga sebelah, saya makin gemuk. Benarkah itu, Mas?” tanya sang istri.

Dengan berbohong suami menjawab, “Ah, tidak benar itu. Postur tubuhmu tetap ideal. Hanya saja saat saya memboncengkan kamu kemarin, ban belakakang kelihatan gembos. Padahal baru saya pompa.”

Ungkapan cinta kepada istri bisa juga ditunjukkan melalui kesetiaan atau perilaku yang bersifat menghibur.

Misalnya, sambil memijit-mijit pundak istrinya, suami berkata, “Tentu kamu lelah sekali, Dik. Pagi-pagi sudah mondar-mandir. Kamu berjalan dari dalam rumah menuju dapur, kembali lagi ke dalam rumah, berjalan lagi ke kamar mandi, kembali lagi ke dalam rumah, dan seterusnya. Kalau dimeteri mungkin mencapai puluhan, bahkan ratusan meter, Dik.”

Terkait dengan masalah kesetiaan, ada buku menarik berjudul “Manusia Berjiwa Malaikat” karya Ustadz Suharyo.

Dalam buku itu diceritakan tentang pasangan suami-istri yang hidup tenang dan tenteram. Keduanya saling mencintai, saling menyayangi, saling menghargai, dan saling melengkapi. Lebih tenteram lagi setelah Allah menganugerahi keduanya empat orang anak.

Akan tetapi, tidak disangka-sangka Allah menguji keduanya. Setelah si istri melahirkan anak yang keempat, tiba-tiba kakinya sulit digerakkan. Makin lama kondisinya makin memburuk. Kondisi terakhir, seluruh badannya tidak bisa digerakkan. Bahkan, ia tidak dapat berbicara.

Baca juga:
Mengabdi Sepanjang Hayat

Namun demikian, hal tersebut tidak melunturkan kecintaan dan kesetiaan si suami sedikit pun. Dirawatnya istrinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Setiap pagi suami penyabar itu memandikan istrinya, membersihkan kotoran, dan mengganti pakaiannya. Disisirnya rambutnya, lalu dikepangnya. Setelah kelihatan rapi dan cantik, disuapinya istrinya dengan penuh kasih sayang.

Setelah semuanya beres, suami penyayang itu berangkat kerja. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada istrinya sambil melontarkan kata-kata yang bersifat menghibur atau gurauan. Istri yang tidak dapat berbicara itu menanggapinya dengan senyuman.

Kebetulan tempat kerjanya tidak jauh dari rumahnya. Dengan demikian, pada siang hari ia bisa pulang sebentar untuk meyuapi istrinya. Setelah berpamitan dan mengajak istrinya bergurau, suami humoris itu pun kembali lagi ke tempat kerjanya.

Sore hari sepulang kerja langsung didekatinya istrinya. Apa yang dilakukan terhadap istrinya pada pagi hari, diulanginya pada sore hari.

Pada malam hari ditemaninya istrinya. Diceritakannya hal-hal menarik yang terjadi di tempat kerja. Diajaknya istrinya untuk bergurau sehingga tidak merasa kesepian. Begitulah rutinitas yang dilakukannya setiap hari.

Bertahun-tahun suami setia itu merawat istrinya. Hingga pada suatu ketika keempat anaknya berkumpul di rumahnya. Mereka berempat bermusyawarah dan memutuskan agar si ayah menikah lagi.

Si sulung pun menyampaikan keputusan itu kepada ayahnya.

“Yah, sudah bertahun-tahun ayah merawat ibu. Kami berempat sepakat andaikan ayah menikah lagi. Biarlah kami berempat yang menjaga dan merawat ibu secara bergantian.”

Mendengar tawaran itu si ayah bukannya menerima, melainkan justru menolaknya.

“Biarlah ayah hidup bersama ibumu. Ayah lebih tenteram dan bahagia hidup berdampingan dengan ibumu. Apa arti kebahagiaan jika ayah harus meninggalkan ibumu? Kalau menikah itu semata-mata untuk memenuhi kebutuhan biologis, sejak masih muda dulu tentu ayah menikah lagi.”

Baca juga:
Lelaki Patah Hati

Mendengar jawaban dari si ayah, keempat anaknya diam seribu bahasa. Mereka hanya bisa menangis.

Tidak ketinggalan, istri tercinta pun melelehkan air mata sebagai tanda bahagia.

 

Mulyo

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed