by

Tiga Tahapan Menjadi Orang Mulia

-Hikmah, Islam-118 views

Ilustrasi : muslim-prayer-twilight-time (Freepik.com)

dualink.id : Sebagai makhluk sosial, kita tidak mampu hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain. Untuk itu, kita perlu menjalin hubungan sosial dengan sesama.

Berkaitan dengan hal tersebut, tidak semua orang berbuat baik kepada kita. Kemungkinan terjadi sebaliknya. Ada saja orang lain yang berbuat zhalim kepada kita.

Jika ada orang yang berbuat zhalim kepada kita, ada tiga tahapan untuk menghadapinya:

 

Tahapan I: Menahan Amarah

Marah itu manusiawi.

Akan tetapi, sebagian orang tidak melakukannya. Mereka sadar bahwa melampiaskan amarah hanya membuang-buang energi saja. Karena itu, mereka memilih menahan daripada melampiaskan amarahnya

Di samping itu, mereka tahu bahwa menahan amarah merupakan ciri orang bertaqwa. “… dan orang-orang yang menahan amarah serta orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.” (Q. S. Ali Imran: 134).

Selain itu, Allah akan mengangkat pelakunya menjadi orang yang mulia. “Sesungguhnya orang yang mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa.” (Q. S. Al-Hujurat: 13) .

Rasulullah saw menilai orang yang mampu menahan amarah sebagai pribadi yang hebat dan kuat.

Dari Abu Hurairah r. a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (H. R. Bukhari dan Muslim).

Perasaan kesal dan ingin marah itu muncul ketika seseorang dizhalimi orang lain. Orang lain di sini bisa teman sejawat, tetangga, atau orang yang tinggal serumah (suami, istri, dan anak-anak).

Sungguh indah dan mulia jika suami menahan amarahnya di saat istrinya melontarkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang tidak disukainya.

 

Tahapan II: Memaafkan Orang Lain

Menahan amarah merupakan perbuatan mulia walaupun tidak mudah untuk melakukannya. Lebih mulia lagi apabila dilanjutkan dengan memaafkan kesalahan orang yang menzhaliminya.

Baca juga:
Ibn Sahl Si Penemu Hukum Refraksi

Sebagian orang beranggapan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu merupakan perbuatan yang hina. Padahal memaafkan itu merupakan perbuatan yang mulia asal dilakukan tanpa syarat tertentu. Misalnya, “Ya, kamu saya maafkan, tetapi jangan diulangi lagi, ya.”

Jika masih diembel-embeli dengan syarat tertentu, berarti perbuatan memaafkan itu belum ikhlas, masih mengambang. Selama orang yang diberi maaf tidak mengulangi kesalahannya, pemberi maaf merasa ikhlas. Bisa jadi keikhlasan itu hilang sewaktu-waktu orang yang diberi maaf mengulangi kesalahannya.

Embel-embel itu menunjukkan bahwa pemberi maaf merasa berat memberikan maaf kepada orang yang telah menzhaliminya. Bisa jadi dalam hati pemberi maaf masih tersimpan rasa dendam.

Padahal menyimpan rasa dendam itu sama dengan menyiksa diri. Rasa dendam itu membebani hati. Lebih baik rasa dendam itu dihapus, lalu memaafkan orang yang telah menzhaliminya dengan ikhlas.

 

Tahapan III: Berbuat Ihsan

Rasulullah saw menjelaskan, Ihsan artinya “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (H. R. Muslim).

Beribadah bisa berarti berbuat baik kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan status sosial maupun akhlaknya.

Orang berbuat baik biasanya bertujuan membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik kepadanya.

Ia merasa enggan berbuat baik kepada orang yang telah menzhaliminya.

Sungguh mulia orang yang berbuat baik kepada orang yang telah menzhaliminya. Misalnya tersenyum dan berwajah ceria di saat berjumpa dengannya.

Lebih mulia lagi apabila dilanjutkan dengan memberikan sedekah kepadanya.

 

(Mulyo)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed