by

Syarat-syarat Amal Shalih

-Hikmah-108 views

Dualink.id : Beramal shalih berarti mengerjakan kebaikan. Akan tetapi, tidak semua kebaikan tergolong amal shalih. Kebaikan akan tergolong amal shalih apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini:

Pertama: Kebaikan tersebut harus didasari dengan niat yang ikhlas.

Ibadah yang tidak disertai dengan rasa ikhlas akan tertolak. Allah hanya menerima ibadah yang didasari dengan niat yang ikhlas.

Dia berfirman, “Padahal mereka tidak diperintah, melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan meikhlaskan agama karena-Nya, dengan cenderung kepada tauhid, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memberikan zakat, dan demikian itulah agama yang lurus.” (Q. S. Al-Bayyinah: 5).

Rasa ikhlas dapat menimbulkan kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi godaan setan. Setan tidak mampu menggoda orang-orang yang ikhlas dalam beribadah.

Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, sungguh akan kusesatkan mereka (Adam dan keturunannya) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Q.S. Shaad: 82-83).

Kedua: Ibadah itu dilaksanakan sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Saw.

Segala macam ibadah yang dilaksanakan tidak sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Saw atau tidak dicontohkan oleh beliau, ibadah itu pasti tertolak.

Beliau Saw bersabda, “Barangsiapa mengerjakan satu amal yang perbuatan kami tidak begitu, maka ia tertolak.” (H. S. R. Muslim).

Kita dilarang untuk mengadakan cara baru dalam beribadah. Akan tetapi, kita dianjurkan untuk menciptakan cara-cara baru dalam hal mu’amalah duniawiyah. Misanya, kalau dulu kotoran sapi hanya digunakan untuk menyuburkan tanaman, sekarang kotoran sapi bisa dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan. Sebagaimana telah diteliti oleh pelajar SMK Muhammadiyah 1 Babat Lamongan.

Ketiga: Ibadah yang dilakukan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat kepada orang lain.

Jadi, tidak hanya berfungsi vertikal, tetapi juga horizontal. Kebaikan yang dilakukan tidak hanya bermanfaat secara individu, tetapi juga bermanfaat secara sosial. Hal ini menuntut seorang muslim, selain rajin mengerjakan shalat harus rajin pula berbuat baik kepada tetangganya. Ia harus bergabung dalam satu kelompok untuk menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Baca juga:
Orang-orang yang Rugi

Seorang muslim dituntut untuk menciptakan cara-cara yang baik agar ditiru oleh orang lain. Dengan demikian ia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa mengadakan dalam Islam satu cara yang baik (hasanah), lalu cara itu diikuti oleh orang sesudah dia, maka akan ditulis pahala baginya sebanyak pahala orang-orang yang ikut mengerjakan perbuatan itu, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barangsiapa mengadakan satu cara yang tidak baik dalam, lalu perbuatan itu diikuti oleh orang lain, maka akan ditulis dosa atasnya sebanyak dosa orang-orang yang ikut mengerjakan perbuatan itu tanpa mengurangi sedikit pun dosa-dosa mereka.” (H. S. R. Muslim).

Keempat: Kebaikan yang dilakukan ada peningkatannya.

Kemungkinan ada orang yang kualitas ibadahnya hari ini lebih baik daripada hari sebelumnya. Ada pula orang yang kualitas ibadahnya hari ini sama dengan hari sebelumnya. Bahkan, ada juga orang yang kualitas ibadahnya hari ini lebih buruk daripada hari sebelumnya.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ashr: 1-3 Allah berfirman, “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Berdasarkan firman Allah tersebut, beruntunglah orang-orang yang menggunakan waktunya dengan baik, untuk mengerjakan sesuatu yang terbaik.

“Fastabiqul khairaat. Berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan.” (Q. S. Al-Baqarah: 148) .

Mulyo

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed