by

Tips Berbisnis Takjil di Era COVID-9

-Ekonomi-46 views

DUALINK.ID – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) Dr. Tri Siwi Agustina, SE, M.Si membagikan sejumlah strategi usaha kuliner pada Bulan Ramadan meskipun di tengah pandemik Virus Corona atau Covid-19.

Dr. Tri Siwi Agustina

Menurutnya, setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh produsen. Pertama, fokus pada produk yang berpotensi dibutuhkan konsumen. Kedua, mempelajari perilaku konsumen. Ketiga menjaga stok dan bahan baku. Dan terakhir, memperhatikan kualitas.

Fokus Pada Produk Berpotensi

Biasanya, ketika bulan suci Ramadan, produk kuliner yang dicari konsumen adalah gorengan, makanan siap saji, kue, aneka minuman segar, hingga frozen food. Pada saat pandemik Covid-19 seperti sekarang ini, jenis minuman yang dicari pasti akan bertambah. Terutama minuman berbahan dasar buah atau rempah yang dipercaya meningkatkan imunitas tubuh.

“Minuman seperti wedang uwuh, wedang jahe kunyit lemon, wedang sarabba, pasti akan sangat dicari,” kata Siwi saat wawancara pada Minggu (26/04/2020).

Pelajari Perilaku Konsumen

Meskipun tengah menghadapi pandemik Covid-19, sifat konsumerisme masyarakat tetap tinggi, namun beberapa hal berbeda. Konsumen lebih mengurangi intensitas keluar rumah, sehingga beralih ke pembelian dalam jaringan (daring) atau online.

Dengan demikian, produsen kuliner harus memaksimalkan smartphone untuk aktivitas penjualan. Selain itu, menurut Siwi, konsumen pada kondisi pandemik mengutamakan kuliner yang menyediakan jasa layan antar atau bawa pulang (take away).

Masyarakat juga lebih menghendaki produk kuliner yang terjamin higienitasnya karena kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat. Untuk menjamin kebersihan produk, produsen bisa memberi informasi yang menyatakan suhu tubuh pembuat produk tersebut. Selain itu, media sosial juga dapat dipakai untuk menjelaskan kebersihan proses produksi hingga pengantaran.

Menurut Siwi, dalam kondisi pandemik seperti ini, konsumen cenderung ingin segera menyelesaikan tujuannya.

Baca juga:
Masyarakat dan Wisatawan Tumplek Blek di Kenduri Durian

“Pastikan stok tersedia dan perhitungkan waktu pemrosesan dengan waktu pengantaran ke konsumen. Jangan sampai konsumen kecewa karena mendapatkan produk kulinernya melewati waktu berbuka puasa atau melewati jam makan sahur,” tuturnya.

Apabila konsumen memilih datang ke lokasi penjualan, sediakan produk kuliner dalam bentuk kemasan minimal dua jam sebelum waktu berbuka puasa. “Pikirkan juga cara pembayaran yang efektif, sehingga konsumen benar-benar hanya datang, mendapatkan produknya, membayar dan langsung pergi,” imbuh Siwi.

Jaga Stok dan Bahan Baku

Sejak memasuki Bulan Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri, biasanya harga sembako tidak stabil. Selain harus mengantisipasi lonjakan harga tersebut, produsen juga harus jeli memperhitungkan jumlah order dengan ketersediaan stok dan bahan baku.

Di masa pandemik Covid-19, hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjaga pasokan stok bahan baku adalah faktor transportasi. Karantina wilayah atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan berpengaruh pada waktu datangnya bahan baku yang dipesan. Hal tersebut selayaknya dipertimbangkan.

Perhatikan Kualitas

Produsen harus berhati–hati dalam memilih bahan baku dan mengolah produk karena akan memengaruhi kualitas. Jangan sampai memilih bahan baku yang murah, tapi ternyata mendekati kadaluwarsa atau kualitasnya tidak terjamin.

“Alih–alih mendapatkan keuntungan berlebih dari bahan baku yang murah, yang ada malah menyebabkan gangguan kesehatan,” tandasnya.

Ketika mengolah produk pun juga demikian. Perhatikan ketahanan produk kuliner, jarak pengantaran, serta pengemasannya. “Jangan sampai karena ingin mengolah produk kuliner lebih awal, justru kualitasnya buruk dan tidak layak dikonsumsi serta beresiko pada kesehatan konsumen,” kata Siwi. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed