by

Hadapi COVID-19, Robot RAISA Ditambahi 2 Fitur Baru

DUALINK.ID – Melanjutkan kolaborasi pengembangan robot untuk menggantikan tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menambahkan berbagai fitur kepada dua unit Robot Medical Assistant ITS – Airlangga (RAISA).

Kedua robot RAISA generasi terbaru ini resmi diperkenalkan di Gedung Pusat Robotika ITS, Jumat (8/5).

Rektor ITS, Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng, menjelaskan dua robot ini masing-masing akan bekerja pada ruang Intensive Care Unit (ICU) dan High Care Unit (HCU). “Robot ini memiliki karakteristik teknis yang disesuaikan kebutuhan pada masing-masing ruangan,” jelasnya.

Sensor detak jantung di RAISA.

Ruang ICU berisi pasien dalam keadaan pasif sampai tidak sadarkan diri. RAISA yang bekerja di ruang ICU berfokus pada pengamatan kondisi vital pasien. Di ruang HCU, tempat pasien yang masih bisa berinteraksi, RAISA memiliki fitur komunikasi seperti sebelumnya dan fitur tambahan untuk sensor denyut jantung, infus, dan saturasi oksigen.

Rudy Dikairono ST MT, salah satu tim peneliti RAISA, menjelaskan RAISA yang ICU mengalami peningkatan fitur kamera. Yang sudah ada digantikan kamera dengan resolusi lebih tinggi guna memantau kondisi pasien secara langsung. Kamera dengan fitur Pan-tilt-zoom (PTZ) ini memungkinkannya untuk berputar 360 derajat seperti kamera surveillance.

Kamera PTZ pada tubuh RAISA.

“Kamera ini kami beli kemudian dimodifikasi penempatan dan kontrolnya agar bisa terhubung ke joystick di ruang operator,” paparnya.

Untuk di ruang HCU, RAISA ditambahkan beberapa sensor suhu dan kadar oksigen. Sensor ini sudah menggunakan IoT dan akan dibuatkan database di server. Ini membuat masing-masing pasien memiliki data tersendiri.

Kedua RAISA ini juga memiliki proximity sensor (sensor jarak) yang akan mendeteksi benda penghambat atau penghalang jalannya robot. Jika ada halangan, RAISA memberikan peringatan suara dan akan ada peringatan di layar monitor operator. “Sensor ini bisa mendeteksi sampai jarak tiga meter, namun akan berhenti jika hambatan berjarak 50-75 sentimeter,” jelas dosen Teknik Elektro ini.

Baca juga:
Liverpol Takluk 2-1, Posisinya Kian Sulit

Rudy dan timnya mengembangkan pintu otomatis yang membukakan jalan kepada RAISA. Ruang isolasi terbagi menjadi tiga ruangan yaitu ruang bersih, ruang antara, dan ruang infeksi. Pintu otomatis dipasang untuk menghubungkan ruang antara dengan ruang infeksi tempat pasien dirawat.

“Pintu yang awalnya manual akan dimodifikasi, sehingga bisa dibukakan melalui ruang operator dan sudah terintegrasi dengan software robot,” tambahnya.

Robot yang akan menjalankan finalisasi selama tiga sampai lima hari ini dikembangkan tim robot ITS dengan koordinator utama Rudy Dikairono ST MT, Muhtadin ST MT, Ahmad Zaini ST MSc, Dr I Ketut Eddy Purnama ST MT, dibantu mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin, Teknik Informatika, dan Teknik Elektro Otomasi.

Direktur Utama RSUA, Prof dr Nasronudin SpPD-KPTI FINASIM, menyatakan fitur-fitur tambahan ini sangat membantu para tenaga medis dalam menjalankan tugas. “Dengan adanya fitur ini, di ruang ICU kita bisa mengamati denyut jantung, jenis infus, jumlah tetesan infus, produksi urin, dan saturasi oksigen. Di ruang HCU kita juga bisa mengukur suhu pasien, dan bisa berinteraksi dengan pasien,” terangnya.

Dokter Nasron menyatakan rasa syukurnya atas apa yang telah dicapai dari kolaborasi antara ITS dengan RSUA. Dengan adanya RAISA, interaksi antara tenaga medis dengan pasien secara langsung akan berkurang sehingga menurunkan risiko tertular Covid-19.

“Selain bisa membantu tenaga medis dalam bekerja, kita juga bisa mengurangi kebutuhan APD yang jumlahnya terbatas. Pasien juga bisa lebih banyak beristirahat sehingga mengurangi stress dan mempercepat proses penyembuhan,” ungkapnya.

Ke depan, dokter kelahiran 1956 ini berharap teknologi modern karya anak bangsa seperti robot medis ini bisa dilakukan produksi nasional, dan digunakan di berbagai rumah sakit di Indonesia. “Kita bisa mengurangi impor teknologi dari luar negeri. Para tenaga medis bisa bekerja dengan aman,” tuturnya. (*)

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed