by

Masa Pandemi, Imunisasi untuk Anak Sebaiknya Tetap Dilakukan

DUALINK.ID – Karena pandemi Covid-19, sejumlah pelayanan imunisasi anak tidak bisa dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan. Menanggapi hal tersebut, Laura Navika Yamani SSi MSi PhD, dosen epidemiologi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR), sangat menyayangkan.

Laura Navika Yamani PhD

Menurutnya, jika pelaksanaan vaksinasi ditunda atau bahkan ditiadakan maka hal itu akan berdampak bagi kesehatan anak. Kesehatan anak akan rentan terhadap penyakit menular endemis di suatu wilayah, misalkan Hepatitis B, difteri, dan campak. Kasus penyakit menular pada anak bisa mengalami peningkatan pada masa pandemi.

“Balita sangat rentan terinfeksi penyakit menular karena sistem imunnya yang belum terbentuk dan hanya mengandalkan imunitas yang didapatkan dari ibu selama di kandungan, yang kemungkinan hanya bertahan 6 sampai 12 bulan,” ucap Laura. “Sebetulnya, balita tetap memerlukan perlindungan dari imunisasi. Anak yang sering terkena infeksi, nafsu makan berkurang dan sampai menyebabkan gizi kurang. Pada akhirnya mengalami gangguan tumbuh kembang yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan dan produktivitas di masa depan.”

Anak yang rentan, lanjut Laura, berusia dari 0 hari sampai 5 tahun. Tetapi, masa 6 sampai 12 bulan, bayi masih bisa menggunakan antibodi yang diperoleh dari ibu saat di kandungan dan didukung ASI sebagai imunisasi pasif. Jika ASI ekslusif diberikan sampai 2 tahun juga merupakan salah satu bentuk perlindungan balita agar tidak rentan terhadap penyakit menular.

“Tetapi antibodi yang diperoleh anak tersebut dari ibu apakah antibodi yang lengkap dari berbagai penyakit menular yang bisa menyerang anak? Dengan imunisasi aktif atau vaksinasi, bisa diyakinkan si bayi bisa memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit menular sesuai jenis vaksinnya,” tuturnya.

Menurut Laura, pelayanan imunisasi di masa pandemi sebaiknya tetap dilakukan dengan melakukan protokol kesehatan ketat bagi petugas kesehatan maupun masyarakat yang datang untuk mendapatkan layanan imunisasi. Masyarakat atau orang tua balita berkomunikasi dengan tempat pelayanan kesehatan terdekat apakah ada peluang untuk mendapatkan layanan imunisasi.

Baca juga:
Habib Bahar: “Ini Resiko Perjuangan!”

Tak hanya itu, orang tua juga mesti mempertimbangkan cara terbaik mendapatkan layanan imunisasi. Misalnya, memilih mendapatkan imunisasi di rumah atau tetap di fasilitas kesehatan. Sehingga balita dipastikan mendapatkan layanan kesehatan sesuai dengan jadwal. Hal itu untuk mengurangi risiko kerentanan terhadap suatu penyakit menular.

“Harus proaktif. Saling berkomunikasi antara petugas kesehatan, unit imunisasi, dan masyarakat atau orang tua balita. Karena imunisasi sudah terjadwal, jika bukan petugas kesehatan yang mengingatkan maka orang tua balita harus mencari informasi layanan imunisasi tersebut,” pungkasnya. (*)

 

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed