by

3 Prinsip Keselamatan Tenaga Medis saat Pandemi

DUALINK.ID – Pandemi Covid-19 terus meminta korban di seluruh dunia. Penderita Covid-19 di Indonesia semakin banyak dan korban meninggal juga bertambah. Sedikitnya 20 tenaga medis di Indonesia turut gugur mengemban tugas. Banyaknya korban dari kalangan tenaga medis yang terpapar Covid-19 ini menandakan prinsip keselamatan kerja tidak dilaksanakan dengan baik.

Dr Rahadian Indarto Susilo

Dr Rahadian Indarto Susilo dr SpBS(K), dosen departemen bedah saraf Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), dalam diskusi online Musculoskeletal Science Community for Medical Student (Meniscus) Rabu (22/5), memaparkan tiga prinsip yang harus diperhatikan dalam prinsip keselamatan tenaga medis.

Pertama, screening untuk mengisolasi dan melokalisasi pasien dengan segera agar virus tidak menyebar luas. “Goalnya adalah early isolation and containment. Artinya petugas medis harus segera mengisolasi dan melokalisasi pasien Covid-19 sehingga virusnya tidak menyebar. Prinsipnya, jangan campurkan yang sehat dengan yang sakit,” ujar Rahadian.

Kedua, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Virus Corona baru penyebab Covid-19 bisa menular melalui droplet tapi tidak tertutup kemungkinan juga menular melalui aerosol. “Ini virus baru. Kita tidak tahu pasti menularnya hanya melalui droplet atau juga aerosol. Maka, harus dianggap lewat aerosol juga bisa.”

Rahadian mengatakan, ada beberapa tempat di tempat pelayanan kesehatan, selain ruang perawatan, yang memiliki andil besar dalam penularan virus. Salah satunya ruang ganti tenaga medis. Sirkulasi udara yang buruk, banyaknya mobilitas manusia, dan kegiatan yang dapat memicu penyebaran virus menjadi penyebabnya. “Di ruang perawatan, jumlah virusnya kecil. Yang paling tinggi itu di ruang ganti. Sirkulasinya jelek, orang banyak di situ, baju yang sudah terkontaminasi virus juga diobrak–abrik,” jelasnya.

APD dibagi menjadi level 1, 2, dan 3. Ada 4 unsur yang harus dipatuhi dalam penggunaan APD. Pertama, indikasi penggunaan. Penggunaan APD level 1, 2, atau 3 harus memperhatikan situasi dan kondisi sehingga dapat memperkirakan besarnya risiko terpapar virus. Kedua, perhatikan cara pemakaian APD yang baik dan benar. Ketiga, perhatikan cara melepas APD yang benar. Banyak tenaga medis terpapar virus karena kurang memperhatikan cara melepas APD yang benar. Keempat, kualitas APD yang baik. APD dapat di-reuse dengat syarat memenuhi standardisasi sterilisasi yang benar.

Baca juga:
WNI dari Wuhan Dijadwalkan Mendarat Hari Ini

Ketiga, zonasi. Ini menjadi hal penting karena petugas medis harus membedakan pasien yang infeksius dan tidak sehingga penggunaaan jenis APD bisa disesuaikan dengan kondisi pasien. Akan tetapi dalam penerapannya petugas medis harus menggunakan APD level 3 karena kesulitan untuk membedakan pasien berdasarkan zonasi ketika pandemi saat ini. Hal tersebut tentunya sangat memakan biaya.

“Jika bisa memisahkan zona pasien, kita bisa menggunakan APD sesuai level yang ada. Sehingga
tidak memakan biaya yang banyak,” kata Rahadian.

Bagikan Sekarang!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed